Polres Pasuruan Sebagai Nara Sumber Gerakan Pesantren Tolak Kekerasan Seksual Menggema di Pasuruan
- account_circle Pom py
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

*Polres Pasuruan Sebagai Nara Sumber Gerakan Pesantren Tolak Kekerasan Seksual Menggema di Pasuruan*
Pasuruan , RI – Semangat menjaga marwah pendidikan Islam terasa kuat dalam kegiatan Temu Pesantren se-Pasuruan Gerakan Pesantren Menolak Kekerasan Seksual yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Wachid Hasyim, Bangil, Senin (25/5/2026). Forum ini menjadi ruang kebersamaan antara aparat kepolisian, tokoh agama, dan pimpinan pondok pesantren untuk memperkuat komitmen menciptakan lingkungan santri yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut menghadirkan sekitar 42 pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Pasuruan. Dalam agenda rutin Program Cooling System itu, KBO Satbinmas Polres Pasuruan, Iptu Bambang Hariyadi, S.Sos memberikan pembinaan terkait keamanan dan ketertiban masyarakat, disertai dialog interaktif yang berlangsung hangat dan penuh keterbukaan.
Dalam pemaparannya, Iptu Bambang menegaskan bahwa pesantren merupakan pusat pembinaan ukhuwah dan pendidikan karakter yang harus dijaga kehormatannya. Menurutnya, pesantren kerap menjadi sasaran sorotan media sosial, sehingga penting bagi pengelola pondok untuk menjaga integritas lembaga melalui verifikasi rekam jejak pengurus serta penerapan kode etik yang ketat dalam hubungan antara guru dan santri.
Sementara itu, Kasubag TU Kemenag Kabupaten Pasuruan, Bahrul Ulum, menyampaikan bahwa sistem pendidikan pesantren telah banyak diadopsi berbagai negara karena nilai luhur yang dimilikinya. Ia mengingatkan bahwa kasus kekerasan di dunia pendidikan tidak hanya terjadi di pesantren, namun sering kali pesantren menjadi fokus pemberitaan sehingga membentuk persepsi publik yang perlu disikapi dengan bijak.
Rangkaian acara diawali pembukaan oleh Gus Nuam, dilanjutkan lagu Indonesia Raya, sambutan dari sejumlah tokoh, hingga dialog interaktif yang dipandu Gus Azis. Suasana diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan keseriusan seluruh pihak dalam membangun kesadaran bersama terhadap bahaya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Dalam forum tersebut, para pimpinan pesantren juga diajak meningkatkan pengawasan terhadap santri dan santriwati serta menumbuhkan budaya speak up untuk mencegah perilaku menyimpang sejak dini. Langkah pencegahan dinilai penting agar lingkungan pondok tetap menjadi tempat belajar yang aman, religius, dan penuh keteladanan.
Melalui gerakan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin erat antara pesantren, pemerintah, dan kepolisian dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Pesantren pun diharapkan terus menjadi benteng moral yang melahirkan generasi berakhlak, berilmu, dan berani menjadi agen perubahan bagi masa depan bangsa.(mjb/tg)
- Penulis: Pom py




Saat ini belum ada komentar