Harmoni di “Miniatur Indonesia”: Saat Ogoh-Ogoh dan Semangat Ramadan Bersatu di Cimahi
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
- visibility 34
- print Cetak
CIMAHI, RI – Lapangan Pussenarhanud mendadak berubah menjadi panggung keberagaman yang memukau pada Selasa (17/3/2026).
Di tengah suasana bulan suci Ramadan, masyarakat Kota Cimahi justru berkumpul merayakan Pawai Budaya Ogoh-Ogoh dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948.
Bukan sekadar ritual keagamaan, parade ini menjadi bukti autentik bahwa toleransi di “Kota Tentara” ini bukan sekadar slogan. Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, yang hadir langsung di lokasi, menyebut fenomena ini sebagai simbol kuat persatuan lintas iman.
“Inilah wajah asli Cimahi. Ada kolaborasi erat antarumat beragama yang saling menghargai. Kerukunan adalah napas utama masyarakat kita,” ujar Ngatiyana dengan bangga di sela-sela kemeriahan acara.
Tahun ini, perayaan terasa lebih istimewa karena momentum Nyepi yang beriringan dengan Ramadan. Bukannya menjadi sekat, perbedaan ini justru mempererat ikatan sosial. Pawai yang diinisiasi oleh Pura Wira Loka Natha ini melibatkan setidaknya 23 etnis dan berbagai komunitas lintas agama, mulai dari Hindu hingga Islam.
Ngatiyana menilai kehadiran puluhan etnis dari Sabang sampai Merauke dalam satu barisan pawai menjadikan Cimahi sebagai “Miniatur Indonesia”.
“Kehadiran 23 etnis di sini menunjukkan bahwa meski kita bermacam-macam suku, agama, dan ras, tujuan kita tetap satu: menjaga Cimahi tetap kondusif dan rukun,” tambahnya.
Apresiasi tinggi juga diberikan kepada jajaran TNI, khususnya Danpusdik Arhanud, yang telah memfasilitasi lokasi kegiatan sehingga acara berlangsung tertib dan aman. Keamanan dan ketertiban selama pawai berlangsung menjadi cermin kedewasaan berwarga di Kota Cimahi.
Melalui pawai ogoh-ogoh ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: keberagaman adalah fondasi, bukan beban.
Ngatiyana berharap semangat inklusivitas ini tidak berhenti pada seremonial belaka, tetapi terus mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, nilai saling menghormati ini terus terjaga, sehingga Cimahi selalu menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakangnya,” pungkasnya. R. Harry KP.
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar