Kesenian Kuda Lumping Dor Jombang Terus Bertahan, Seniman Ajak Generasi Muda Ikut Melestarikan.
- account_circle Radar Indonesia
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 2
- print Cetak

Kesenian Kuda Lumping Dor Jombang Terus Bertahan, Seniman Ajak Generasi Muda Ikut Melestarikan.
JOMBANG, RI – Ditengah pesatnya perkembangan hiburan modern, kesenian tradisional Kuda Lumping Dor khas Kabupaten Jombang masih tetap bertahan dan menjadi salah satu warisan budaya yang membanggakan masyarakat setempat. Para pelaku seni berharap kesenian ini terus dilestarikan agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Salah satu kelompok yang aktif menjaga eksistensi Kuda Lumping Dor adalah Sanggar Kesenian Margo Mulyo Sejati yang dipimpin oleh Suprihono. Kelompok seni tersebut beralamat di Dusun Jambangan, Desa Latsari, Kabupaten Jombang.
Menurut Suprihono, Kuda Lumping Dor merupakan kesenian tradisional asli Jombang yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan pertunjukan kuda lumping dari daerah lain.
“Kuda Lumping Dor adalah kesenian khas Jombang yang perlu terus dijaga dan dilestarikan bersama-sama oleh masyarakat, khususnya para pecinta seni tradisional,” ujar Suprihono yang akrab disapa Pak Suprih ketika ditemui wartawan pada Jumat (19/6/2026).
Keunikan Kuda Lumping Dor terlihat dari berbagai unsur yang digunakan dalam pertunjukannya. Salah satunya adalah alat peraga berupa kuda kepang yang memiliki ukuran relatif lebih kecil dibandingkan kuda lumping pada umumnya. Selain itu, bagian rambut kuda dibuat menggunakan serabut pohon aren sehingga memberikan karakter visual yang berbeda dan khas.
Tidak hanya pada properti pertunjukan, perbedaan juga tampak pada perangkat musik pengiringnya. Kesenian Kuda Lumping Dor menggunakan seperangkat gamelan yang sebagian instrumennya memanfaatkan kulit hewan sebagai bahan utama.
Beberapa alat musik yang menjadi ciri khas di antaranya adalah jidor dan cinplong. Perpaduan bunyi dari instrumen-instrumen tersebut menghasilkan irama yang unik dan menjadi identitas tersendiri bagi kesenian tradisional ini.
Dalam setiap penampilannya, kelompok Kuda Lumping Dor berupaya menghadirkan pertunjukan yang menarik, tertata rapi, dan menghibur masyarakat. Menurut Pak Suprih, bentuk dan skala pertunjukan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pihak yang mengundang atau memberikan pekerjaan pentas.
“Untuk bentuk pertunjukan biasanya menyesuaikan permintaan dari pihak yang mengundang. Namun kami selalu berusaha menampilkan pertunjukan yang rapi dan menarik agar masyarakat dapat menikmati kesenian tradisional ini,” katanya.
Keberadaan Kuda Lumping Dor tidak hanya menjadi sarana hiburan rakyat, tetapi juga memiliki nilai budaya yang penting. Kesenian ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Jombang sekaligus media untuk mempererat hubungan sosial antarwarga melalui berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan di desa maupun tingkat kabupaten.
Meski demikian, tantangan pelestarian budaya tradisional saat ini semakin besar.
Minat generasi muda terhadap kesenian tradisional dinilai perlu terus ditingkatkan agar regenerasi pelaku seni dapat berjalan dengan baik. Karena itu, para seniman berharap masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak terkait dapat bersama-sama memberikan dukungan terhadap keberlangsungan Kuda Lumping Dor.
Di akhir keterangannya, Pak Suprih mengajak seluruh pecinta seni tradisional, khususnya penggemar Kuda Lumping Dor di Jombang, untuk ikut berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut.
“Kesenian ini adalah milik bersama masyarakat Jombang. Mari kita lestarikan bersama agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
- Penulis: Radar Indonesia




Saat ini belum ada komentar