Keluarga Korban Di Torjun Memaafkan, Tapi Negara Tidak Boleh Diam: Tertibkan Truk, Bus Mini, Dan Pick Up Angkut Manusia Yang Ugal-Ugalan!
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- print Cetak

SAMPANG, RI – Ada pelajaran besar dari Monumen Pancasila, Torjun, Kamis (22/10/2026).
Seorang warga Desa Kodak yang berniat mulia membesuk ke Pondok Pesantren mengalami musibah di jalan, diduga akibat kendaraan besar yang melaju tidak wajar dan meninggalkan lokasi.
Sikap keluarga korban sangat mulia: TIDAK MENUNTUT.
“Kami ikhlas. Tidak menuntut ganti rugi. Kami hanya titip harapan,” ucap keluarga.
Namun, keikhlasan keluarga jangan diartikan sebagai izin untuk membiarkan pelanggaran terus terjadi.
Keikhlasan warga kecil tidak boleh dibalas dengan pembiaran oleh negara.
FAKTA DI JALAN TORJUN – MONUMEN PANCASILA YANG HARUS DITERTIBKAN SECARA TEGAS:
Warga tidak butuh teori, warga butuh ketegasan di lapangan.
1. BUS MINI KEJAR SETORAN = NYAWA TARUHAN
Banyak yang melaju melebihi batas wajar di jalan kabupaten yang sempit. Menyalip di marka lurus. Ini bukan rahasia umum lagi.
2. TRUK BERMUATAN BERAT AROGAN
Merasa paling besar, paling kuat. Tidak memberi ruang bagi pengendara motor, ibu-ibu, dan santri. Klakson menjadi senjata untuk mengintimidasi.
3. PICK UP ANGKUT ORANG – PELANGGARAN YANG DIBIARKAN
Ini yang paling sering dan paling berbahaya. Pick up bak terbuka yang jelas peruntukannya untuk BARANG, setiap hari dipakai mengangkut 10-15 orang. Anak-anak, ibu-ibu berdiri di belakang tanpa sabuk, tanpa atap, tanpa keselamatan. Jika terjadi rem mendadak atau senggolan kecil, mereka akan terlempar. Ini pelanggaran kasat mata Pasal 303 UU LLAJ, tapi seolah dibiarkan.
TUNTUTAN TEGAS NAMUN KONSTITUSIONAL:
Kami mendukung penuh aparat, maka kami menuntut ketegasan sesuai undang-undang:
KEPADA SATLANTAS POLRES SAMPANG:
Lakukan penindakan tegas, terukur, dan berkelanjutan. Bukan hanya operasi sesaat. Tilang, tegur, dan cabut izin trayek bagi bus mini dan truk yang terbukti ugal-ugalan. Patroli rutin di jam rawan di sekitar Monumen Pancasila.
KEPADA DISHUB SAMPANG:
Hentikan KIR yang asal lolos. Tertibkan pick up yang mengangkut manusia di bak terbuka. Itu bukan angkutan manusia!
KEPADA PEMKAB SAMPANG:
Pasang lampu jalan, pasang rambu kejut, dan perjelas marka di jalur Torjun-Monumen Pancasila.
Keluarga korban sudah memberikan contoh akhlak terbaik: Memaafkan.
Sekarang giliran aparat memberikan contoh terbaik: Menegakkan aturan dengan tegas.
Jangan tunggu ada santri atau ibu yang mau besuk ke pondok pesantren berikutnya yang jadi korban.
Tegas itu bukan benci. Tegas itu adalah bentuk cinta kepada keselamatan rakyat.
Hormat kami,
Warga Torjun & Keluarga Korban yang Ikhlas
(NS/RED/RI)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar