Mahasiswa PPG pelatihan PE Cegah Ketergantungan AI Bagi Remaja Bentuk Penerapan SDG’s 4 & 9
- account_circle Radar Indonesia
- calendar_month 4 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

Mahasiswa UM Malang saat PPG di SMKN 1 Tekung Lumajang
LUMAJANG, RI – Mengingat maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif sebagai jalan pintas mengerjakan tugas, sekelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bidang Informatika Universitas Negeri Malang (UM) menggelar pelatihan literasi digital. Kegiatan pengabdian masyarakat ini ditujukan bagi remaja berusia 17 hingga 18 tahun di Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, pada pekan pertama, 5 Juni 2026.
Pelatihan ini berfokus pada penguasaan teknik rekayasa perintah (prompt engineering) guna mengembalikan daya kritis siswa dalam memanfaatkan teknologi.
Fenomena ketergantungan pada teknologi pintar semakin mengkhawatirkan di lingkungan pendidikan kejuruan. Banyak pelajar usia remaja yang menggunakan aplikasi tersebut sekadar untuk menyalin jawaban tanpa melalui proses berpikir analitis.
Menyadari kondisi ini, program pelatihan dirancang khusus agar siswa tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Mereka dilatih untuk mengendalikan sistem mesin pintar melalui teknik pemberian instruksi yang spesifik, kontekstual, dan memiliki batasan yang jelas.
Inisiatif pengabdian yang diusung mahasiswa PPG UM ini merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung Sustainable Development Goals SDGs poin 4 dan 9, melalui pelatihan ini, mahasiswa UM berkontribusi dalam meningkatkan keterampilan literasi digital dan berpikir kritis (critical thinking) remaja agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak di era transformasi digital dan mewujudkan adaptasi inovasi teknologi yang inklusif dan berkelanjutan bagi generasi muda.

Mahasiswa UM Malang saat PPG di SMKN 1 Tekung Lumajang
Berbeda dengan kelas teori konvensional, pelatihan ini menerapkan metode praktik langsung pembuatan karya visual secara individu. Peserta diajarkan memecah ide abstrak menjadi struktur kalimat teknis yang mudah dipahami oleh mesin atau yang dikenal dengan istilah dekomposisi komputasional.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mengesampingkan format ujian tulis tradisional. Keterampilan peserta langsung dievaluasi melalui observasi mendalam terhadap riwayat teks instruksi yang mereka ketik serta kualitas produk visual yang dihasilkan.
Proses interaksi antara siswa dan mesin menjadi fokus utama pendampingan. Saat hasil visual pertama melenceng dari harapan, peserta dibimbing untuk menemukan kesalahan logika pada kalimat perintah mereka, bukan sekadar menyerah pada hasil mesin.
”Awalnya saya hanya menyuruh mesin membuat gambar pemandangan, tetapi hasilnya sangat tidak relevan. Setelah saya belajar memperbaiki struktur kalimat dan menambahkan parameter visual yang lebih detail, gambarnya menjadi sangat akurat,” ujar Andika Galih, salah satu siswa peserta pelatihan saat mempresentasikan hasil karyanya.
Perwakilan tim pengabdian PPG UM Ainur Rofiq menyampaikan bahwa penguasaan teknologi harus dibarengi dengan pemahaman etika dan logika.
“Kami ingin mengubah mindset para remaja. AI bukan alat untuk menghindari proses berpikir, melainkan mitra kognitif yang justru menuntut kejelasan logika berpikir penggunanya. Ini adalah bagian dari tanggung jawab akademisi UM untuk mengawal pencapaian target SDGs poin 4 dan 9 di bidang pendidikan digital,” tegasnya.
Melalui intervensi ini, pola pikir remaja mengenai kecerdasan buatan mulai bergeser secara positif. Mesin pintar tidak lagi dianggap sebagai mesin penjawab instan yang menggantikan proses belajar, melainkan sebagai instrumen kognitif yang menuntut kejelasan logika penggunanya.
Sebagai langkah keberlanjutan program, modul panduan praktis yang disusun oleh tim penyelenggara kini dihibahkan ke perpustakaan sekolah agar dapat menjadi rujukan belajar mandiri bagi angkatan selanjutnya. (Azis)
- Penulis: Radar Indonesia




Saat ini belum ada komentar