Di Balik Daun Emas 2026: Stabilnya Harga Tembakau, Doa Petani, dan Pesan Waspada Langit Madura
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

SAMPANG, RI – Di tengah proyeksi stabilnya harga tembakau musim tanam 2026, Radar Indonesia Kabiro Sampang sekaligus pelaku spiritual Nusantara menitipkan pesan yang menyejukkan kalbu: seimbangkan ikhtiar bumi dengan ikhtiar langit.
Menurutnya, angka-angka kebijakan cukai dan prakiraan cuaca memang menjadi nalar dalam membaca arah harga. Namun, ada satu variabel tak tertulis yang kerap menentukan keberkahan panen, yaitu doa.
“Saya percaya, keringat yang menetes di ladang harus sejalan dengan tengadah tangan ke langit. Masyarakat Madura, apa pun agama dan keyakinannya, mari tetap berdoa sesuai tuntunan masing-masing. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar tanah yang kita pijak diberkahi, agar daun tembakau yang kita rawat tumbuh berkualitas, dan rezeki kita semakin melimpah,” tutur R kepada Radar Indonesia saat ditemui di Sampang, Sabtu (25/4/2026).
Sebagai sosok yang merentang jejak di dua dunia, jurnalistik dan laku spiritual Nusantara, ia memandang doa bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai bentuk paling jujur dari rasa syukur dan pengharapan.
“Para petani tembakau kita adalah pejuang sunyi. Dari menanam, menyiram, hingga menunggu daun menguning sempurna di kala kemarau. Ikhtiar lahiriah itu sudah paripurna. Maka jangan lupakan ikhtiar langitnya. Ini bukan soal sekat agama, melainkan tentang keyakinan bahwa ada Kekuatan Maha Besar yang menggenggam takdir rezeki setiap insan,” ujarnya.
Di tengah semangatnya petani menyambut musim tanam, R juga menyelipkan doa sekaligus peringatan keras soal keselamatan. Ia menekankan agar petani tetap waspada pada cuaca ekstrem dan sambaran petir, terutama saat menanggapi kisah pilu tahun lalu.
Ia mengingatkan, musim tanam tembakau kerap beririsan dengan pancaroba yang rawan badai petir. Tragedi tahun lalu di Desa Jeruk Porot, Kecamatan Torjun, Sampang, yang merenggut nyawa petani akibat sambaran petir di tengah sawah, harus jadi pelajaran mahal.
“Kalau langit sudah gelap dan ada kilat, hentikan dulu kerja di lahan. Jangan berteduh di gubuk, di bawah pohon, atau di pematang terbuka. Itu sama saja mengundang bahaya,” tegas R.
Radar Indonesia Kabiro Sampang sekaligus pelaku spiritual tersebut juga mendorong kelompok tani untuk proaktif. “Edukasi petani soal tanda-tanda badai. Nyawa tidak bisa dibeli dengan harga tembakau semahal apa pun.”
Ia berharap langit Madura tahun ini lebih bersahabat. Semoga kejadian kelam di Jeruk Porot tidak terulang kembali, dan semua petani bisa pulang ke rumah dengan selamat membawa hasil panen yang berkah.
“Rezeki pada hakikatnya adalah titipan. Jika kita merawat bumi dengan kerja keras, merawat sesama dengan kerukunan, dan merawat hubungan dengan Sang Pencipta melalui doa, insyaallah Madura akan selalu diberkahi. Ekonominya tumbuh, batinnya pun tenang,” tambah R.
Optimisme ini sejalan dengan keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2026. Kebijakan tersebut diyakini memberi napas panjang bagi pabrikan untuk menyerap tembakau rakyat dengan harga yang lebih manusiawi di sentra-sentra produksi seperti Pamekasan dan Sampang.
Sebab pada akhirnya, selembar daun tembakau bukan sekadar komoditas. Ia adalah harapan yang tumbuh, doa yang terlipat di setiap urat daun, dan tawakal yang mengiringi setiap tetes peluh petani Madura. ( G. Nas )
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar