Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan TB, Wali Kota Mojokerto Minta Kader Tingkatkan Kewaspadaan Penyebaran TB di Permukiman Padat
- account_circle Pom py
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan TB, Wali Kota Mojokerto Minta Kader Tingkatkan Kewaspadaan Penyebaran TB di Permukiman Padat
Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan TB, Wali Kota Mojokerto Minta Kader Tingkatkan Kewaspadaan Penyebaran TB di Permukiman Padat*
Kota Mojokerto, RI – Tuberkolusis (TB) menjadi salah satu masalah Kesehatan yang menjadi atensi utama Pemerintah Kota Mojokerto. Untuk itu dengan bersinergi kader motivator dan Tim Penggerak PKK, Pemerintah Kota terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan TB melalui sosialisasi yang digelar di Kelurahan Magersari, Rabu (20/5).
Dalam arahannya, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan bahwa TB menjadi persoalan serius yang harus ditangani bersama. Ia menyoroti tingginya kasus TB di Indonesia yang kini menempati peringkat kedua dunia berdasarkan data WHO.
“TB ini penyebarannya sangat cepat karena tidak kelihatan. Banyak orang yang sebenarnya sudah membawa virus TB tetapi tidak merasa sakit sehingga enggan berobat. Padahal tanpa disadari bisa menularkan kepada orang lain,” terangnya.
Ning Ita juga menekankan bahwa kepadatan penduduk menjadi salah satu faktor yang mempercepat penularan TB. Menurutnya, Kota Mojokerto dengan wilayah yang kecil namun padat penduduk memiliki risiko tinggi sehingga diperlukan langkah antisipasi yang serius.
“Tempat dengan kepadatan tinggi dan ventilasi kurang baik sangat rentan menjadi lokasi penyebaran TB. Karena itu kita harus bergerak bersama melakukan edukasi dan menemukan kasus sedini mungkin,” jelasnya.
Ia meminta para kader kesehatan aktif melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat yang memiliki gejala TB agar bersedia menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Sebab, pengobatan TB bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga demi melindungi orang lain dari penularan.
“Kalau ada yang membawa virus TB tapi tidak mau berobat, padahal bisa menularkan kepada orang lain yang daya tahan tubuhnya lemah, ini sangat berbahaya. Maka kader harus terus mengedukasi masyarakat agar mau berobat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita meminta pelaksanaan skrining dilakukan secara proporsional berdasarkan jumlah dan kepadatan penduduk masing-masing kelurahan agar hasilnya lebih efektif.
“Saya setuju jumlah skrining diperbesar karena Kota Mojokerto ini pusat perdagangan dan jasa, tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai daerah. Potensi penularannya tentu lebih besar,” imbuhnya.
Di akhir kegiatan, Ning Ita mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan program nasional penanggulangan TB demi melindungi kesehatan warga Kota Mojokerto.
“Mari kita jaga bersama Kota Mojokerto agar tidak semakin banyak warga yang terkena TB. Ini bagian dari upaya menyelamatkan masyarakat,” pungkasnya. (Rdwn)
- Penulis: Pom py




Saat ini belum ada komentar