Di Antara Arab, Jawa, dan Madura: Menjaga Akar Lokal di Tengah Arus Global
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

SAMPANG, RI – Diskursus mengenai posisi Indonesia di tengah arus budaya global belakangan ini kembali memanas. Di balik narasi perdagangan internasional, muncul ketegangan sosiologis yang lebih dalam: benturan antara nilai-nilai lokal Nusantara dengan arus purifikasi yang mengklaim diri sebagai “peradaban yang lebih mulia”.
Di wilayah pesisir Jawa Timur dan Madura—daerah yang dikenal sebagai poros Pandalungan—fenomena ini terasa sangat kental. Masyarakat mulai mempertanyakan legitimasi narasi yang menempatkan tradisi Arab sebagai standar tunggal kebenaran, sementara budaya lokal, yang merupakan hasil akulturasi selama berabad-abad, justru kerap dimarginalkan oleh kelompok fanatik.
Pernyataan bahwa “China menjual produk dan Arab menjual peradaban” hanyalah simplifikasi yang memicu perdebatan. Realitasnya, hubungan Indonesia dengan kedua entitas tersebut jauh lebih kompleks. Dengan China, Indonesia menjalin kemitraan infrastruktur dan ekonomi. Namun, dengan dunia Arab, interaksi ini sering kali terdistorsi oleh sikap segelintir kelompok yang memandang identitas Arab sebagai simbol kesalehan tertinggi.
Sikap superioritas ini menciptakan stratifikasi sosial yang tidak sehat. Kelompok fanatik, terutama di wilayah seperti Madura, sering kali menggunakan legitimasi “kearab-araban” untuk merendahkan kearifan lokal. Tradisi yang telah menjaga harmoni di Nusantara justru dituding sebagai penyimpangan. Padahal, Islam di Indonesia berhasil berkembang justru karena kemampuannya memeluk budaya lokal, bukan menghancurkannya.
Diskusi mengenai asal-usul suku Madura dan keterkaitannya dengan Jawa juga membuka tabir sejarah yang sering kabur. Meskipun narasi sejarah sering kali dibumbui dengan legenda—seperti kaitan silsilah dengan tokoh besar seperti Joko Tingkir—faktanya adalah adanya ikatan sejarah, darah, dan budaya yang tak terpisahkan antara masyarakat di Lamongan hingga ke Sampang.
Kemiripan budaya antara Lamongan dan Madura bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari migrasi dan asimilasi panjang. Karakter masyarakat di wilayah ini—tegas, berani, dan memiliki solidaritas kelompok yang kuat—adalah produk dari kerasnya lingkungan pesisir dan pendidikan di pesantren yang menjadi pusat gravitasi sosial mereka.
Sikap “berkelompok” atau solidaritas yang kuat di wilayah ini memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menjadi jaring pengaman sosial yang efektif. Di sisi lain, jika dibalut dengan fanatisme buta yang mengagungkan budaya asing dan merendahkan budaya sendiri, ia akan menjadi ancaman bagi kohesi nasional.
Tantangan bagi generasi muda saat ini bukanlah memilih antara menjadi “Arab” atau menjadi “Jawa”, melainkan bagaimana memperkuat jati diri sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat. Sudah saatnya masyarakat kritis menyadari bahwa tidak ada satu peradaban pun yang berhak merendahkan peradaban lain.
Bangga terhadap akar budaya sendiri—dengan tetap menghormati universalitas agama—adalah jalan tengah yang harus ditempuh. Sebab, peradaban besar tidak dibangun dari sikap meniru bangsa lain secara membabi buta, melainkan dari keberanian menjaga identitas diri di tengah gempuran arus globalisasi yang sering kali tidak ramah terhadap keanekaragaman lokal.
Catatan: Tulisan ini merupakan rangkuman reflektif atas dinamika sosiokultural yang berkembang di masyarakat, bertujuan memicu pemikiran kritis mengenai pentingnya menjaga kedaulatan budaya di tengah arus globalisasi dan fanatisme identitas.
(Ns/red)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar