Sedekah Bumi Punduttrate Tak Lagi Sekadar Ritual, Warga Gerakkan Swasembada Air dan Pangan
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

GRESIK, RI — Tradisi Sedekah Bumi di Desa Punduttrate, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, tak berhenti sebagai ritual tahunan. Tahun ini, tradisi warisan leluhur tersebut dijadikan momentum untuk menjawab persoalan nyata masyarakat: ketersediaan air dan ketahanan pangan.
Mengusung tema “Menuju Desa Swasembada Air dan Swasembada Pangan”, Sedekah Bumi yang digelar Sabtu (12/9/2026) menjadi penanda tumbuhnya kesadaran warga untuk membangun kemandirian desa dari bawah.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu dihadiri Camat Benjeng Nurul Fuad, Kepala Desa Punduttrate Mohammad Muslik, SH, tokoh agama Haji Mohammad Khosim, tokoh masyarakat, serta masyarakat Desa Punduttrate.
Bagi warga, tema swasembada bukan sekadar rangkaian kata dalam acara seremonial. Ada persoalan yang hendak dijawab dan ada langkah yang mulai dijalankan.
Kekeringan dan kebutuhan air bersih menjadi salah satu pemicu lahirnya gerakan warga untuk membangun sarana tampungan air bersih. Gagasan tersebut berangkat dari musyawarah dan swadaya masyarakat, dengan mengandalkan semangat gotong royong serta potensi yang dimiliki desa.
Menariknya, inisiatif tersebut tidak bertumpu pada pembiayaan dari APBN, APBD maupun APBDes. Warga memilih mengawali gerakan dari kemampuan dan kekuatan mereka sendiri.
Di titik inilah makna Sedekah Bumi Punduttrate menjadi lebih luas. Tradisi tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan syukur atas tanah dan hasil bumi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kesadaran bersama bahwa persoalan kebutuhan dasar harus mulai dijawab secara kolektif.
Air menjadi pintu masuk. Pangan menjadi sasaran berikutnya.
Di sektor pertanian, masyarakat didorong mengoptimalkan lahan dan potensi desa untuk memperkuat ketahanan pangan. Pengelolaan sumber daya secara mandiri diharapkan mampu mengurangi ketergantungan sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat ditopang dari kekuatan lokal.
Kepala Desa Punduttrate Mohammad Muslik menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah bergotong royong menjaga tradisi sekaligus mendukung agenda kemandirian desa.
“Melalui Sedekah Bumi ini, kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat tanah dan air. Tetapi yang lebih penting, kita ingin memperteguh tekad bersama agar Desa Punduttrate mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan air dan pangan,” ujar salah satu perwakilan warga.
Sedekah Bumi kemudian berlangsung dalam suasana kebersamaan. Rangkaian kegiatan meliputi doa bersama, syukuran, kirab hasil bumi, kirab tumpeng, pembacaan doa Sedekah Bumi, hingga makan bersama.
Tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh desa, jajaran pemerintahan desa dan masyarakat umum turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Namun, pesan terbesar dari perhelatan tahun ini bukan semata kemeriahan acara. Punduttrate sedang mencoba menggeser cara pandang terhadap tradisi: dari sekadar mengenang warisan leluhur menjadi energi untuk menghadapi persoalan masa kini.
Gotong royong yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat desa kini diarahkan untuk membangun sarana air bersih dan memperkuat sektor pangan. Dengan cara itu, nilai-nilai tradisional memperoleh relevansi baru di tengah tantangan kebutuhan dasar masyarakat.
Sedekah Bumi Punduttrate akhirnya bukan hanya tentang rasa syukur atas hasil bumi. Ia menjadi simbol tekad warga untuk membangun desa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.
Jika gerakan tersebut mampu dipertahankan secara konsisten, Punduttrate dapat menjadi contoh bahwa kemandirian desa tidak selalu harus menunggu program dari atas. Perubahan bisa dimulai dari bawah—dari musyawarah warga, swadaya, gotong royong, dan keberanian mengelola potensi desa sendiri.
Dari tradisi, lahir gerakan. Dari gotong royong, tumbuh kemandirian. Dan dari Punduttrate, sebuah gagasan sederhana mulai ditegaskan: desa yang mandiri air dan pangan harus dibangun oleh masyarakatnya sendiri. (Rdwn)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar