Wamenkes Bidik Mojokerto Jadi Percontohan Nasional Eliminasi TB, Target Bebas TB dalam Tiga Tahun
- account_circle Pom py
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- print Cetak

Wamenkes Bidik Mojokerto Jadi Percontohan Nasional Eliminasi TB, Target Bebas TB dalam Tiga Tahun
MOJOKERTO, RI — Kota Mojokerto mendapat perhatian khusus pemerintah pusat dalam upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis (TB). Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Oktavianus menilai kesiapan fasilitas kesehatan, sumber daya manusia, serta strategi skrining yang telah berjalan di Kota Mojokerto membuka peluang kota tersebut menjadi salah satu daerah percontohan nasional dalam penanggulangan TB.
Hal itu disampaikan Benjamin saat meninjau pelaksanaan skrining TB yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kelurahan Surodinawan dan RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo, Kota Mojokerto, Selasa (29/9/2026).
Peninjauan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita, serta Wakil Wali Kota Mojokerto Rachman Sidharta Arisandi.
Dari hasil peninjauan, Wamenkes menilai pelaksanaan skrining di Kota Mojokerto telah menyasar kelompok yang tepat, terutama masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TB dan kelompok yang berisiko mengalami sakit TB.
“Kami datang ke Kota Mojokerto bersama Ibu Wali Kota melihat program bagaimana dilakukan skrining TB. Tadi saya lihat caranya sudah benar, bahwa kontak erat yang disasar dan orang yang berisiko sakit yang disasar. Itulah strategi kita menurunkan kasus TB di Indonesia,” ujar Benjamin.
Mojokerto Dinilai Punya Modal Kuat
Menurut Benjamin, Kota Mojokerto memiliki posisi strategis dalam pengendalian TB. Selain memiliki wilayah yang relatif kecil, kota ini didukung enam rumah sakit, enam puskesmas, serta 10 puskesmas pembantu (pustu).
Kapasitas tersebut dinilai menjadi modal penting untuk melakukan penemuan kasus secara aktif dan terintegrasi.
Terlebih, fasilitas kesehatan di Kota Mojokerto selama ini juga melayani pasien yang berasal dari luar wilayah kota. Kondisi itu, menurut Wamenkes, menunjukkan kapasitas layanan kesehatan setempat dalam menangani pasien TB sekaligus membuka peluang Mojokerto menjadi model pengendalian TB.
“Kalau bisa kita melakukan pemberantasan TB sebagai percontohan nasional, Kota Mojokerto, Kota Bogor. Saya sudah lihat kota-kota yang bisa karena SDM-nya cukup dan selama ini jadi tumpahan mengobati orang wilayah kota lain,” katanya.
Kontak Erat Jadi Sasaran Utama
Benjamin menegaskan, penguatan skrining menjadi salah satu kunci untuk memutus rantai penularan TB. Karena itu, orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB perlu diperiksa secara menyeluruh.
Pemeriksaan dapat dilakukan melalui skrining kesehatan, termasuk pemeriksaan rontgen. Masyarakat yang belum menunjukkan gejala sakit tetapi memiliki risiko dapat diberikan terapi pencegahan, sedangkan mereka yang terdiagnosis TB segera mendapatkan pengobatan.
6
“Dengan data yang ada kita bisa, seluruh warga Kota Mojokerto yang kontak erat harus diperiksa% kesehatannya. Difoto ronsen, kalau begitu dia nggak sakit langsung dapat obat pencegahan, yang sakit langsung diobati,” jelasnya.
Strategi tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat penemuan kasus, tetapi juga mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit dan menular kepada masyarakat lainnya.
Wamenkes Pasang Target Tiga Tahun
Wamenkes bahkan memasang target jangka menengah bagi Kota Mojokerto. Ia berharap dalam tiga tahun ke depan Mojokerto mampu menjadi salah satu kota di Indonesia yang berhasil mencapai kondisi eliminasi TB.
“Harapan saya tiga tahun ke depan Mojokerto salah satu kota bebas TB pertama di Indonesia. Mimpinya saya itu, karena punya wali kota yang hebat,” tutur Benjamin.
Namun, pengendalian TB tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Benjamin menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai pola hidup sehat, pencegahan penularan, serta kepatuhan menjalani pengobatan.
“Yang dibutuhkan adalah edukasi, pengetahuan. Setelah itu masyarakat makin taat. Jadi hidup itu dengan pola hidup sehat itu sudah bisa mengurangi konsumsi obat,” katanya.
Pemkot Klaim Dukungan Anggaran di Atas 20 Persen
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, yang akrab disapa Ning Ita, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor kesehatan, termasuk mendukung program eliminasi TB.
Salah satu bentuk komitmen tersebut, kata Ning Ita, terlihat dari alokasi anggaran kesehatan yang disebut telah melampaui 20 persen.
“Anggaran kesehatan kita lebih dari 20 persen, lebih dari yang ditetapkan dalam mandatory spending. Kemudian kita juga memiliki para kader yang siap menjadi garda terdepan untuk berkolaborasi dalam eliminasi TB,” tegas Ning Ita.
Penguatan peran kader di tingkat masyarakat dinilai penting karena mereka berada paling dekat dengan warga. Kader dapat membantu edukasi, mendorong masyarakat mengikuti skrining, sekaligus memperkuat deteksi dini terhadap kelompok berisiko.
Peninjauan Wamenkes di Kota Mojokerto menjadi bagian dari penguatan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat penemuan serta penanganan kasus TB.
Dengan dukungan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, kader, sistem data, serta partisipasi masyarakat, Kota Mojokerto kini didorong untuk tidak sekadar menjalankan program penanggulangan TB, tetapi berpeluang menjadi model bagi daerah lain dalam mempercepat target eliminasi TB di Indonesia. (Rdwn)
- Penulis: Pom py




Saat ini belum ada komentar