Tragedi Dini Hari di Kota Bahari: Motif Pembacokan Sadis Petugas SPBU Camplong Terkuak, Amarah Memuncak Gara-gara Gagal Pindai Barcode BBM Bersubsidi
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
- visibility 136
- print Cetak

SAMPANG,RI- Peristiwa tragis yang mengguncang ketenangan dini hari di Kabupaten Sampang, Madura, akhirnya mengungkap motif di baliknya. Kasus pembacokan brutal yang menjadikan Hairuddin (29), seorang petugas SPBU di Jalan Raya Camplong, sebagai korban, murni dipicu oleh masalah kepatuhan regulasi pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Korban yang diketahui merupakan warga Dusun Gung Dalem, Desa Banjar Talelah, menderita luka-luka serius dan kini dalam perawatan intensif.
Insiden mengerikan ini terjadi di area SPBU 5469206 Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, pada Senin (20/10/2025) sekitar pukul 01.00 WIB. Pemicunya adalah kegagalan sistem membaca barcode subsidi tepat yang digunakan oleh terduga pelaku.
Saksi kunci, Pardi (20), rekan kerja korban, menceritakan kronologi menegangkan tersebut. Peristiwa bermula ketika sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang pria berinisial M datang untuk mengisi BBM jenis Pertalite.
”Sesuai dengan Surat Edaran dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, korban, Hairuddin, meminta dan mencoba memindai barcode kendaraan pelaku. Ini adalah langkah wajib untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran,” jelas Pardi saat dimintai keterangan usai menjalani pemeriksaan di Mapolres Sampang pada Senin (20/10/2025) sore.
Informasi akurat mengenai kronologi mendetail di lapangan, termasuk identitas terduga pelaku dan kesaksian awal, berhasil dihimpun melalui jaringan Forum Pemuda Madura Indonesia/FPMI yang berkoordinasi dengan pihak terkait.
Menurut keterangan Pardi, proses pemindaian barcode tersebut ternyata gagal. Data yang tertera pada barcode tidak sinkron atau tidak sesuai dengan pelat nomor kendaraan yang dibawa oleh M, sehingga secara sistem, pengisian BBM ditolak. Penolakan inilah yang langsung memicu luapan emosi tak terkontrol dari pelaku.
Tantangan ‘Carok’ dan Keterlibatan Jaringan Lain
”Pelaku M langsung marah-marah. Dia berteriak, mengklaim bahwa barcode-nya selalu berhasil digunakan di tempat lain dan menuduh korban sengaja menghalang-halangi. Dari situ dia mulai emosi dan menantang korban berkelahi,” tutur Pardi, menggambarkan suasana yang seketika berubah tegang.
Korban Hairuddin yang melihat gelagat pelaku yang semakin agresif, bahkan diduga dalam pengaruh minuman keras, sempat menegur pelaku untuk meredakan situasi. Namun, teguran tersebut justru dianggap M sebagai ajakan untuk carok, tradisi duel khas Madura.
Situasi tak terkelola ketika M kemudian menelepon seseorang. Hanya berselang kurang dari lima menit, dua orang pria tiba di lokasi menggunakan sepeda motor, datang dari arah utara, dan segera bergabung dengan M sambil membawa senjata tajam berupa celurit.
Pardi yang menyadari ancaman bahaya senjata tajam, segera berlari menuju kantor untuk memanggil pemilik SPBU, Abah Saudi.
Kehadiran Abah Saudi di lokasi kejadian sesaat sebelum serangan terjadi menjadi penyelamat. Abah Saudi berusaha keras melerai dan berdiri di depan Hairuddin, mencoba menahan amukan para pelaku. Sayangnya, upaya mediasi tersebut gagal. Salah satu dari dua rekan M segera menyerang korban.
”Abah Saudi mencoba pasang badan. Kalau tidak ada Abah, serangan celurit itu pasti jauh lebih fatal dan bisa merenggut nyawa korban di tempat,” ungkap Pardi dengan nada prihatin.
Dalam kondisi terdesak, Hairuddin dilaporkan sempat melakukan perlawanan dengan gagah berani dan berhasil merebut celurit dari tangan salah satu penyerang. Momen perlawanan inilah yang memicu reaksi lebih brutal. Pelaku lain dilaporkan mengeluarkan senjata api dan menembakkannya sebanyak dua kali ke arah kaki korban. Meskipun tembakan meleset, aksi tersebut menunjukkan tingkat kekerasan dan perencanaan yang serius dari para pelaku.
Setelah melancarkan serangan dan melihat korban tersungkur, ketiga pelaku melarikan diri ke arah Pamekasan.
Korban Kritis, Polres Sampang Lakukan Pengejaran.
Akibat insiden ini, Hairuddin mengalami luka bacok yang parah dan dalam di empat titik vital, yakni bahu kiri, kepala bagian kiri, tangan kiri, serta leher bagian belakang.
Korban segera mendapat pertolongan pertama di Puskesmas setempat sebelum dirujuk ke RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang.
Humas RSUD Sampang, Amin Jakfar Sadik, membenarkan bahwa pasien tiba dan telah menjalani tindakan operasi pada pukul 07.00 WIB, dan kini berada dalam pemantauan intensif.
Pihak kepolisian bergerak cepat. Di lokasi kejadian, selain mengamankan rekaman CCTV yang merekam detik-detik pengeroyokan brutal, tim penyidik juga menemukan dua selongsong peluru yang kini menjadi barang bukti penting.
Plh Kasi Humas Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, menegaskan bahwa kasus ini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan dan menargetkan penangkapan para pelaku secepatnya. “Kami telah mengantongi identitas terduga pelaku utama berinisial M dan kawan-kawan. Motif pasti masih kami dalami, namun fokus utama saat ini adalah pengejaran dan penangkapan,” ujarnya.
Para pelaku terancam dijerat Pasal 353 ayat (1) dan (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan. Ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara menanti mereka. AKP Eko juga mengimbau masyarakat untuk selalu menaati peraturan pengisian BBM bersubsidi dan tidak main hakim sendiri karena kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
(G Nas/dari berbagai sumber)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar