Air Mata di Balik Dinding Pesantren: Saat Nurani Kita Diuji
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
- visibility 68
- print Cetak

PROBOLINGGO,RI- Pesantren, dalam bayangan banyak orang, adalah taman ilmu dan akhlak. Tempat para santri menimba bukan hanya pengetahuan agama, tapi juga kebijaksanaan hidup. Di sana, adab diajarkan lebih dulu sebelum kitab dibuka. Di sana, setiap langkah diiringi doa, setiap napas dituntun iman.
Namun bagaimana jika tempat yang mestinya melahirkan akhlakul karimah justru menjadi ruang sunyi yang menyimpan air mata dan ketakutan?
Bagaimana jika di balik tembok pesantren yang seharusnya memancarkan cahaya ilmu, justru tersimpan luka yang tak terlihat—luka yang lahir dari pengkhianatan kepercayaan dan penyalahgunaan kuasa?
Kasus dugaan kekerasan terhadap santriwati yang menyeret nama pengasuh pesantren bukan sekadar persoalan hukum; ia adalah cambuk nurani kita bersama. Ia mengguncang sendi moral yang menjadi dasar berdirinya lembaga pendidikan berbasis keimanan. Sebab di balik setiap laporan, ada trauma yang mengendap; di balik setiap kesaksian, ada doa lirih seorang anak yang kehilangan rasa aman.
Bayangkan jika itu terjadi pada anak kita, keponakan kita, atau siapa pun yang kita cintai.
Apakah kita masih bisa diam?, Apakah nurani kita tidak terusik?
Mendidik dan membimbing adalah amanah, bukan wewenang untuk berbuat sewenang-wenang. Kekuasaan seorang pengasuh, ustaz, atau guru tak boleh meniadakan kemanusiaan seorang murid. Apalagi di pesantren tempat di mana kata “amanah” seharusnya dimaknai dengan sebenar-benarnya tanggung jawab moral dan spiritual.
Kini, masyarakat menanti: bukan sekadar proses hukum yang tegas, tapi juga pembersihan moral dari seluruh pihak yang masih memegang teguh nilai pesantren. Jangan biarkan satu noda mencoreng kesucian lembaga yang selama ini menjadi benteng moral bangsa.
Karena ketika pesantren kehilangan akhlak, maka yang hilang bukan sekadar nama baik institusi melainkan ruh keikhlasan yang selama ini menjadikannya istimewa.
Dan pada akhirnya, pertanyaan itu tetap menggema di ruang batin kita: “Di mana letak hati nurani kita sebagai manusia?”
(Suh)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar