Proyeksi Bisnis BUMD Baru Dicecar DPRD Kota Probolinggo, Rencana Armada Bekas Perseroda BTT Jadi Sorotan
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 58
- print Cetak

PROBOLINGGO,RI- Proyeksi bisnis Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perseroda Bahari Tanjung Tembaga (BTT) menuai sorotan tajam dari DPRD Kota Probolinggo. Hal itu mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kota Probolinggo bersama jajaran Komisaris dan Direksi Perseroda BTT yang digelar pada Selasa (2/2/2026).
Rapat yang dipimpin Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Ryadlus Sholihin Firdaus, M.Pd, berlangsung dinamis. Para anggota dewan secara bergantian melontarkan pertanyaan kritis terkait kesiapan manajemen BUMD baru tersebut, khususnya menyangkut rencana penyertaan modal daerah sebesar Rp6,93 miliar dari APBD yang hingga kini belum dicairkan.
Dalam forum tersebut, Ryadlus secara terbuka mempertanyakan kesiapan operasional Perseroda BTT. Ia menilai perencanaan bisnis belum sepenuhnya matang, mengingat hingga saat ini perusahaan plat merah tersebut belum memiliki kantor operasional yang representatif.
“Kami meragukan efektivitas pengelolaan anggaran hampir Rp7 miliar jika infrastruktur dasar seperti kantor saja belum tersedia. Ini menyangkut pertanggungjawaban dana publik,” tegas Ryadlus.
Sejumlah anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo turut menyampaikan catatan kritis, di antaranya Sahri Trigiantoro, SH selaku Wakil Ketua, Hj. Farina Chunun Inin, A.md sebagai Sekretaris, serta Masda Putri Amelia, S.IP, M.A, H. Syaifudin DZ, dan Ellyas Aditiawan, S.Ikom. Mereka menilai DPRD perlu memastikan BUMD ini benar-benar siap sebelum penyertaan modal daerah direalisasikan.
Polemik paling tajam mencuat saat pembahasan rencana pengadaan armada logistik. Direktur Perseroda BTT, Noviyadi, S.Sos, MM, memaparkan bahwa porsi terbesar modal akan dialokasikan untuk pembelian truk guna menunjang aktivitas logistik pelabuhan. Namun, rencana penggunaan armada kendaraan bekas langsung menuai pertanyaan dari para legislator.
DPRD Kota Probolinggo menilai penggunaan armada bekas berpotensi menimbulkan persoalan baru, mulai dari tingginya biaya perawatan hingga risiko pendeknya umur ekonomis kendaraan yang justru dapat membebani keuangan BUMD di kemudian hari.
Meski mendapat tekanan bertubi-tubi, manajemen Perseroda BTT tetap menunjukkan optimisme. Noviyadi menyatakan pihaknya telah melakukan perencanaan secara matang agar Perseroda BTT tidak menjadi beban keuangan daerah, melainkan mampu berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Target kami mulai operasional pada Maret mendatang. Setelah kantor dan armada tersedia, Perseroda BTT siap bergerak dan menjadi motor penggerak PAD Pemerintah Kota Probolinggo,” ujar Noviyadi.(suh)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar