Workshop Revitalisasi BKM, Kemenag Kabupaten Probolinggo Serahkan Sertifikat Wakaf
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
- visibility 92
- print Cetak

PROBOLINGGO,RI- Masjid tidak hanya jadi tempat ibadah. Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris menegaskan, masjid juga harus hadir sebagai pusat peradaban, pendidikan, hingga kemandirian ekonomi umat.
Pesan itu ia sampaikan dalam workshop revitalisasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) bertema “Mendesain Masjid Berdaya dan Berdampak untuk Umat” di Pusat Layanan Haji dan Umroh Terpadu Kraksaan, Senin (29/9/2025).

Acara ini diikuti berbagai tokoh, di antaranya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo M. Zubaidi, Kepala Kemenag H. Samsur, Ketua PCNU Kota Kraksaan KH. Hafidzul Hakim Noer, Ketua BWI Kabupaten Probolinggo HM. Ramly Syahir, serta perwakilan ATR/BPN Probolinggo.
Dalam kesempatan itu, juga dilakukan penyerahan sertifikat wakaf dan pelepasan peserta Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Nasional 2025.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo, Samsur, mengingatkan bahwa masjid punya peran strategis dalam membangun peradaban.
Kepala Kantor Kemenag Probolinggo H. Samsur memberikan laporan kegiatan workshop revitalisasi BKM. (Foto : Kominfo/Syamsul Akbar)
“Sebagaimana Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, yang pertama dibangun bukan rumah, melainkan masjid. Dari sanalah lahir kekuatan dakwah, pendidikan, dan penguatan iman,” ujarnya.
Ia mencatat ada 1.692 masjid di Kabupaten Probolinggo, sebagian besar sudah bersertifikat. Potensi itu, kata dia, harus dioptimalkan agar masjid ramah masyarakat, ramah anak-anak, sekaligus jadi pusat kebersamaan.
“Masjid bukan sekadar bangunan fisik. Ia harus menjadi tempat pembinaan umat, dakwah, pendidikan, majelis taklim, hingga Taman Pendidikan Al-Qur’an,” tegas Samsur.
Ia menyebut, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga kemakmuran masjid sekaligus kebersihan hati jamaahnya.
Sementara itu, Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menyatakan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya tempat salat berjamaah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat musyawarah, pendidikan, hingga perekonomian. Ia menilai semangat tersebut perlu kembali dihidupkan.
“Kalau masjid mandiri secara finansial, marwahnya terjaga. Masjid bisa kelola zakat, sedekah, wakaf, hingga usaha kecil. Jadi, selain pusat ibadah, masjid juga bisa mensejahterakan jamaah dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H. Samsur bersama penerima sertifikat wakaf. (Foto : Kominfo/Syamsul Akbar)
Menurut Gus Haris, dua kata kunci harus jadi pedoman memakmurkan masjid yakni berdaya dan berdampak.
“Berdaya berarti mandiri, berdampak artinya memberi manfaat spiritual maupun sosial ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap pengurus masjid, pemerintah daerah, dan masyarakat bisa berkolaborasi menjaga fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat.
“InsyaAllah kalau dikelola dengan manajemen modern, keberkahan akan dirasakan bersama. Baik dalam kehidupan beragama maupun peningkatan kesejahteraan,” pungkasnya.(Suh)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar