Meneladani Warisan Batin: Para Guru Sepuh Kita Terdahulu Ingatkan Bahaya Memperturutkan Rasa
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 38
- print Cetak

SAMPANG, RI – Di tengah derasnya arus zaman yang kian cepat dan penuh fitnah, petuah lama dari para guru sepuh kita terdahulu kembali bergema sebagai kompas kehidupan. Pesan-pesan luhur ini menekankan satu hal fundamental bagi kita sebagai umat akhir zaman: keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada kemampuannya mengelola “rasa” dan emosi agar tidak tersesat dalam prasangka.
Para guru sepuh kita dahulu sering mewanti-wanti agar kita tidak mudah terpedaya oleh gejolak hati sendiri. Beliau-beliau mengajarkan bahwa di era ini, banyak yang kita anggap sebagai “harga diri” padahal hanyalah ego yang tersinggung, dan banyak yang kita kira “suara hati” padahal hanyalah nafsu yang pintar berdalih. Beliau mengibaratkan bahwa emosi itu seperti gelombang; jika kau mengambil keputusan saat emosi sedang tinggi, itu seperti berlayar di tengah badai. Kau merasa yakin, padahal batinmu sedang goyah.
Untuk menjaga ketenangan hidup, para guru sepuh kita mengajarkan langkah-langkah praktis:
1. Jangan langsung percaya, karena perasaan tidak selalu mewakili kebenaran.
2. Beri jarak 60 detik agar akal tidak tertutup amarah.
3. Tarik nafas dan berdzikir untuk menenangkan batin.
4. Lakukan tabayyun hati dengan bertanya pada diri sendiri: “Ini fakta atau asumsi? Ini ego atau kebenaran? Ini nafsu atau petunjuk Allah?”
Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh hubungannya dengan rasa. Orang yang dikuasai rasa akan mendapati hidupnya naik-turun atau labil. Orang yang mampu menguasai rasa akan memiliki hidup yang stabil. Namun, orang yang menyerahkan segala rasanya kepada Allah SWT, dialah yang akan merasakan hidup yang benar-benar tenang.
Sesuai dengan dalil QS. Al-Isra: 36 dan peringatan Rasulullah SAW bahwa “Prasangka adalah perkataan yang paling dusta,” ditegaskan bahwa perasaan bukanlah kompas mutlak. Kebenaran bukan di rasa — tapi di cahaya Allah.
Semoga perjalanan terdahulu menjadi manfaat untuk saat ini dan seterusnya. Dengan menguji setiap rasa melalui filter ilmu dan dzikir, kita semua diharapkan dapat menghindari perpecahan, dosa, dan kehancuran hati yang lahir dari reaksi emosional tanpa verifikasi. Latihlah ini selama 30 hari sebagaimana petunjuk para guru, dan rasakan perubahan hidup yang drastis.
(G. Nas)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar