Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dukun, Sinshe, Tabib vs Dokter: Siapa Tukang Sembuh Paling Manjur?

  • account_circle Redaksi Pagi
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 84
  • print Cetak

SAMPANG, RI – Fenomena pengobatan di tengah masyarakat senantiasa menarik perhatian, terutama terkait eksistensi dan pergeseran makna profesi penyembuh tradisional seperti dukun, sinshe, dan tabib jika dibandingkan dengan profesi dokter modern. Kendati memiliki muara tujuan yang sama — yakni mengupayakan kesembuhan pasien — keempat profesi ini bergerak di atas landasan metodologi, sumber ilmu, dan wilayah praktik yang bertolak belakang.

Secara mendasar, dokter modern berpijak pada sains empiris dan berbasis bukti (evidence-based). Sementara itu, sinshe mengacu pada tradisi pengobatan Tiongkok (TCM) yang holistik dengan teori keseimbangan energi Yin dan Yang. Di sisi lain, tabib mendasarkan praktiknya pada pendekatan tradisional Timur Tengah atau Melayu yang berfokus pada unsur alam dan herbal.

Adapun dukun penyembuh atau praktisi terapi tradisional asli Nusantara, sebetulnya merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom) yang telah berabad-abad membantu masyarakat melalui metode empiris-lokal, pijat, ramuan, hingga pendekatan spiritual. Sayangnya, istilah dukun kerap mengalami stigma negatif akibat ulah oknum dukun palsu yang melakukan penipuan, praktik mistis yang menyimpang dari syariat agama, serta pengabaian standar higienitas medis yang berisiko memperburuk kondisi pasien.

Menariknya, stigma negatif terhadap istilah “dukun” kini mengalami generalisasi yang luar biasa di tengah masyarakat dan media massa. Ada kecenderungan sosiologis di mana setiap kali terjadi kesalahan fatal — mulai dari penipuan uang hingga kasus pencabulan — pelakunya hampir selalu dilabeli atau dikaitkan dengan istilah “dukun”, “dukun cabul”, atau “orang pintar”.

Padahal, dalam realita penegakan hukum, tidak jarang oknum pelaku kejahatan tersebut sejatinya berlatar belakang sebagai pemuka agama, oknum kiai, ustaz, pengobat alternatif, maupun tokoh masyarakat yang dihormati. Label “dukun” seolah menjadi kambing hitam bahasa (linguistic scapegoat) untuk menyelamatkan institusi atau gelar keagamaan agar tidak ikut tercoreng. Ketika seorang oknum spiritualis atau pemuka komunitas melakukan pelanggaran moral yang berat, di ruang publik ada keengganan menyebut status aslinya karena faktor psikologis masyarakat. Fenomena yang terjadi: labelnya bergeser menjadi “dukun” demi memisahkan tindakan kriminal tersebut dari kesucian nilai agama atau profesi aslinya.

Fenomena ini tak lepas dari psikologi bahasa masyarakat. Istilah berbau Arab seperti tabib, hikmah, rukiah, syifa, makbul secara sosiologis terlanjur dianggap suci karena tiga faktor. Pertama, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an sehingga melekat kesan religius dan otoritatif. Kedua, warisan Walisongo di Jawa dan ulama di Madura memakai istilah Arab untuk melawan praktik animisme, sehingga kata Arab = Islam = bersih. Ketiga, ada efek “halo suci” — masyarakat awam cenderung memaafkan atau menoleransi kesalahan jika pelakunya pakai sorban, jubah, dan istilah Arab, karena dianggap wakil agama. Akibatnya, begitu ada oknum kiai atau ustaz cabul, publik cenderung menggeser labelnya. Kesan kesucian institusi agama terjaga, yang kena getah tetap istilah lokal “dukun”.

Lebih parah lagi, apa pun yang berbau Jawa justru otomatis dicurigai sebagai perdukunan. Pakai blankon, beskap, keris, sesajen, atau tirakat di gunung langsung dicap klenik dan syirik. Padahal itu pakaian adat dan laku budaya. Bahkan kiai yang masih melestarikan tradisi Jawa — seperti selametan, tahlilan pakai kenduri, ziarah kubur bawa kembang — sering dituduh “kiai dukun” atau “Islam kejawen” oleh kelompok puritan. Simbol Jawa seakan tidak punya ruang pembelaan. Sebaliknya, simbol Arab kerap mendapat asosiasi positif. Jubah, sorban, jenggot, dan istilah Arab sering dipersepsikan sebagai “paling syar’i” dan kebal kritik. Standar ganda ini yang bikin istilah lokal makin terpinggirkan, sementara yang impor dianggap paling benar tanpa diuji dulu.

Fenomena bias istilah ini juga sering diluruskan oleh banyak tokoh agama. Batas utama yang membedakan seorang penyembuh sejati dengan dukun sesat adalah kesesuaian metodenya dengan syariat dan tidak adanya unsur penipuan serta kemusyrikan. Umat diingatkan agar tidak terjebak oleh penampilan luar — seperti jubah, serban, atau embel-embel “orang pintar” — karena pakaian tidak menjamin lurusnya akidah dan metode.

Terlepas dari dinamika sosial dan perbedaan jalur metodologi tersebut, seluruh lini pengobatan ini nyatanya dipertemukan oleh satu fenomena ilmiah yang sama di dalam dunia medis, yaitu efek plasebo (placebo effect). Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh psikologis dan hubungan antara pikiran (mind) serta tubuh (body) dalam proses pemulihan fisik.

Di dunia medis modern, plasebo umumnya digunakan sebagai alat ukur ketat dalam uji klinis obat baru, di mana pasien yang hanya meminum pil gula tanpa zat aktif pun bisa mengalami perbaikan gejala hingga 30% berkat pelepasan hormon endorfin dan dopamin akibat sugesti.

Sementara dalam ranah sinshe, tabib, rukiah keagamaan, maupun terapi tradisional yang lurus, efek plasebo ini justru dioptimalkan sebagai “senjata utama”. Melalui ritual pemeriksaan nadi yang mendalam, aroma herbal yang kuat, sentuhan fisik, hingga untaian doa spiritual yang tulus, para praktisi berhasil membangun ketenangan batin pasien. Jiwa yang tenang dan penuh keyakinan inilah yang secara biologis mendongkrak sistem imunitas tubuh untuk melawan penyakit.

Pada akhirnya, perbedaan mendasar terletak pada porsinya. Medis modern melarang ketergantungan pada plasebo untuk penyakit organik kronis dan tetap mewajibkan adanya zat aktif yang teruji klinis. Sebaliknya, pengobatan alternatif yang bertanggung jawab memadukan khasiat alami herbal dengan kekuatan sugesti serta keyakinan spiritual guna mencapai kesembuhan yang menyeluruh secara holistik. Selama tidak digunakan untuk penipuan atau kedok kejahatan moral, kolaborasi antara pemulihan fisik dan kekuatan psikologis ini tetap menjadi berkah alami bagi kesembuhan manusia.

(Nas/Red)

  • Penulis: Redaksi Pagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri Ungkap DPO Kasus Pembunuhan Vina Cirebon Jadi 1

    Polri Ungkap DPO Kasus Pembunuhan Vina Cirebon Jadi 1

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Jakarta, RI – Polri menjelaskan soal daftar pencarian orang (DPO) atau buron kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon, Jawa Barat. Polri mengatakan awalnya ada tiga DPO, namun berubah jadi satu. “Ketika kasus yang disampaikan Dirkrimum Polda Jabar, bahwa tadinya DPO ada tiga jadi satu karena alat bukti yang mengarah kepada dua orang ini sampai […]

  • Wujud Kepedulian Babinsa Dengan Melakukan Takziah Didesa Warga Binaan

    Wujud Kepedulian Babinsa Dengan Melakukan Takziah Didesa Warga Binaan

    • calendar_month Senin, 6 Mei 2024
    • account_circle Pom py
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Sanggau, RI-Dalam hidup, setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya musibah, Baik itu musibah besar maupun musibah kecil, Hal ini yang biasanya membuat manusia sadar akan kekuasaan Allah swt, dan mengakui bahwa manusia tak lain hanyalah makhluk lemah dan segala takdirnya pun telah digariskan oleh Allah SWT. Seperti halnya yang dilakukan Oleh Babinsa Koramil 1204-21/Entikong […]

  • Beri Motivasi dan Semangat, Dandim 0819/Pasuruan Kunjungi Anggota Yang Sakit

    Beri Motivasi dan Semangat, Dandim 0819/Pasuruan Kunjungi Anggota Yang Sakit

    • calendar_month Jumat, 12 Mei 2023
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Pasuruan, RI – Letkol Arh Noor Iskak, S.T. Dandim 0819/Pasuruan bersama Ny. Noor Iskak, Ketua Cabang XXXIII Kodim 0819/Pasuruan melakukan kunjungan ke beberapa anggota yang sedang sakit menahun di wilayah jajaran Kodim 0819/Pasuruan, Kamis (11/05/2023). Kunjungan ini dilakukan dengan maksud memberi motivasi kepada para personel yang sakit agar tetap semangat dalam menghadapi kondisi kesehatan mereka […]

  • Humas Polres Pasuruan Fasilitasi Komunikasi Terkait Perkara Laka Lantas Tahun 2017

    Humas Polres Pasuruan Fasilitasi Komunikasi Terkait Perkara Laka Lantas Tahun 2017

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Pom py
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Humas Polres Pasuruan Fasilitasi Komunikasi Terkait Perkara Laka Lantas Tahun 2017 Pasuruan, RI – Humas Polres Pasuruan akan memfasilitasi komunikasi antara pihak korban dengan penyidik Unit Laka Lantas Polres Pasuruan terkait perkara kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada 2017. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan ruang klarifikasi terhadap hal-hal yang masih menjadi pertanyaan di masyarakat atas […]

  • Polsek Kangean Polres Sumenep Berhasil Meringkus Pencurian Di Dalam Kalangan Keluarga Sendiri

    Polsek Kangean Polres Sumenep Berhasil Meringkus Pencurian Di Dalam Kalangan Keluarga Sendiri

    • calendar_month Kamis, 17 Feb 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 327
    • 0Komentar

    SUMENEP – RI, Tindak pidana pencurian dalam kalangan keluarga berupa perhiasan gelang emas 24 karat dengan berat + 55 gram milik Korban SUMAWIYA. Desa Bilis – Bilis Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur, yang terjadi pada hari Selasa tanggal 01 Februari 2022, diketahui sekira pukul 09.00 Wib. Pelapor Saudara Sumawiya, alamat Dusun Deje Lorong […]

  • Proyek Irigasi Di Desa Baru Kecamatan Tabir Lintas Diduga Proyek Siluman

    Proyek Irigasi Di Desa Baru Kecamatan Tabir Lintas Diduga Proyek Siluman

    • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 439
    • 0Komentar

    JAMBI – RI, Pembangunan saluran irigasi yang dikerjakan Kelompok Tani yang berlokasi di Desa Koto Baru Sling 2, Kecamatan Tabir Lintas yang bersumber dari bantuan Dinas Pertanian Kabuapten Merangin diduga merupakan Proyek Siluman. Mengapa demikian, pasalnya Proyek Irigasi tersebut tidak disertakan papan proyek sebagai tranparansi Publik dan diduga tidak sesuai dengan spek. Proyek pembangunan saluran […]

expand_less