Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dukun, Sinshe, Tabib vs Dokter: Siapa Tukang Sembuh Paling Manjur?

  • account_circle Redaksi Pagi
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 83
  • print Cetak

SAMPANG, RI – Fenomena pengobatan di tengah masyarakat senantiasa menarik perhatian, terutama terkait eksistensi dan pergeseran makna profesi penyembuh tradisional seperti dukun, sinshe, dan tabib jika dibandingkan dengan profesi dokter modern. Kendati memiliki muara tujuan yang sama — yakni mengupayakan kesembuhan pasien — keempat profesi ini bergerak di atas landasan metodologi, sumber ilmu, dan wilayah praktik yang bertolak belakang.

Secara mendasar, dokter modern berpijak pada sains empiris dan berbasis bukti (evidence-based). Sementara itu, sinshe mengacu pada tradisi pengobatan Tiongkok (TCM) yang holistik dengan teori keseimbangan energi Yin dan Yang. Di sisi lain, tabib mendasarkan praktiknya pada pendekatan tradisional Timur Tengah atau Melayu yang berfokus pada unsur alam dan herbal.

Adapun dukun penyembuh atau praktisi terapi tradisional asli Nusantara, sebetulnya merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom) yang telah berabad-abad membantu masyarakat melalui metode empiris-lokal, pijat, ramuan, hingga pendekatan spiritual. Sayangnya, istilah dukun kerap mengalami stigma negatif akibat ulah oknum dukun palsu yang melakukan penipuan, praktik mistis yang menyimpang dari syariat agama, serta pengabaian standar higienitas medis yang berisiko memperburuk kondisi pasien.

Menariknya, stigma negatif terhadap istilah “dukun” kini mengalami generalisasi yang luar biasa di tengah masyarakat dan media massa. Ada kecenderungan sosiologis di mana setiap kali terjadi kesalahan fatal — mulai dari penipuan uang hingga kasus pencabulan — pelakunya hampir selalu dilabeli atau dikaitkan dengan istilah “dukun”, “dukun cabul”, atau “orang pintar”.

Padahal, dalam realita penegakan hukum, tidak jarang oknum pelaku kejahatan tersebut sejatinya berlatar belakang sebagai pemuka agama, oknum kiai, ustaz, pengobat alternatif, maupun tokoh masyarakat yang dihormati. Label “dukun” seolah menjadi kambing hitam bahasa (linguistic scapegoat) untuk menyelamatkan institusi atau gelar keagamaan agar tidak ikut tercoreng. Ketika seorang oknum spiritualis atau pemuka komunitas melakukan pelanggaran moral yang berat, di ruang publik ada keengganan menyebut status aslinya karena faktor psikologis masyarakat. Fenomena yang terjadi: labelnya bergeser menjadi “dukun” demi memisahkan tindakan kriminal tersebut dari kesucian nilai agama atau profesi aslinya.

Fenomena ini tak lepas dari psikologi bahasa masyarakat. Istilah berbau Arab seperti tabib, hikmah, rukiah, syifa, makbul secara sosiologis terlanjur dianggap suci karena tiga faktor. Pertama, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an sehingga melekat kesan religius dan otoritatif. Kedua, warisan Walisongo di Jawa dan ulama di Madura memakai istilah Arab untuk melawan praktik animisme, sehingga kata Arab = Islam = bersih. Ketiga, ada efek “halo suci” — masyarakat awam cenderung memaafkan atau menoleransi kesalahan jika pelakunya pakai sorban, jubah, dan istilah Arab, karena dianggap wakil agama. Akibatnya, begitu ada oknum kiai atau ustaz cabul, publik cenderung menggeser labelnya. Kesan kesucian institusi agama terjaga, yang kena getah tetap istilah lokal “dukun”.

Lebih parah lagi, apa pun yang berbau Jawa justru otomatis dicurigai sebagai perdukunan. Pakai blankon, beskap, keris, sesajen, atau tirakat di gunung langsung dicap klenik dan syirik. Padahal itu pakaian adat dan laku budaya. Bahkan kiai yang masih melestarikan tradisi Jawa — seperti selametan, tahlilan pakai kenduri, ziarah kubur bawa kembang — sering dituduh “kiai dukun” atau “Islam kejawen” oleh kelompok puritan. Simbol Jawa seakan tidak punya ruang pembelaan. Sebaliknya, simbol Arab kerap mendapat asosiasi positif. Jubah, sorban, jenggot, dan istilah Arab sering dipersepsikan sebagai “paling syar’i” dan kebal kritik. Standar ganda ini yang bikin istilah lokal makin terpinggirkan, sementara yang impor dianggap paling benar tanpa diuji dulu.

Fenomena bias istilah ini juga sering diluruskan oleh banyak tokoh agama. Batas utama yang membedakan seorang penyembuh sejati dengan dukun sesat adalah kesesuaian metodenya dengan syariat dan tidak adanya unsur penipuan serta kemusyrikan. Umat diingatkan agar tidak terjebak oleh penampilan luar — seperti jubah, serban, atau embel-embel “orang pintar” — karena pakaian tidak menjamin lurusnya akidah dan metode.

Terlepas dari dinamika sosial dan perbedaan jalur metodologi tersebut, seluruh lini pengobatan ini nyatanya dipertemukan oleh satu fenomena ilmiah yang sama di dalam dunia medis, yaitu efek plasebo (placebo effect). Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh psikologis dan hubungan antara pikiran (mind) serta tubuh (body) dalam proses pemulihan fisik.

Di dunia medis modern, plasebo umumnya digunakan sebagai alat ukur ketat dalam uji klinis obat baru, di mana pasien yang hanya meminum pil gula tanpa zat aktif pun bisa mengalami perbaikan gejala hingga 30% berkat pelepasan hormon endorfin dan dopamin akibat sugesti.

Sementara dalam ranah sinshe, tabib, rukiah keagamaan, maupun terapi tradisional yang lurus, efek plasebo ini justru dioptimalkan sebagai “senjata utama”. Melalui ritual pemeriksaan nadi yang mendalam, aroma herbal yang kuat, sentuhan fisik, hingga untaian doa spiritual yang tulus, para praktisi berhasil membangun ketenangan batin pasien. Jiwa yang tenang dan penuh keyakinan inilah yang secara biologis mendongkrak sistem imunitas tubuh untuk melawan penyakit.

Pada akhirnya, perbedaan mendasar terletak pada porsinya. Medis modern melarang ketergantungan pada plasebo untuk penyakit organik kronis dan tetap mewajibkan adanya zat aktif yang teruji klinis. Sebaliknya, pengobatan alternatif yang bertanggung jawab memadukan khasiat alami herbal dengan kekuatan sugesti serta keyakinan spiritual guna mencapai kesembuhan yang menyeluruh secara holistik. Selama tidak digunakan untuk penipuan atau kedok kejahatan moral, kolaborasi antara pemulihan fisik dan kekuatan psikologis ini tetap menjadi berkah alami bagi kesembuhan manusia.

(Nas/Red)

  • Penulis: Redaksi Pagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Cimahi Menggelar Gebyar Adminduk Pelayanan bagi Penyandang Disabilitas 

    Pemkot Cimahi Menggelar Gebyar Adminduk Pelayanan bagi Penyandang Disabilitas 

    • calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Foto: Plt Kepala Disdukcapil Kota Cimahi, Dani Bastiani CIMAHI, RI– Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) menggelar Gebyar Adminduk Pelayanan bagi Penyandang Disabilitas Sadulur Disabilitas di Aula SLBN-A Citeureup. Program yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini digelar serentak se Jawa Barat dan dibuka secara langsung oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi […]

  • Terkait Belum Adanya Fasum Perum Esha Hanan Residence. Pengembang Beralasan Menunggu RAB, DPP GNPB Akan Terus Kawal Persoalan Ini

    Terkait Belum Adanya Fasum Perum Esha Hanan Residence. Pengembang Beralasan Menunggu RAB, DPP GNPB Akan Terus Kawal Persoalan Ini

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 370
    • 0Komentar

    BATANG – RI, Menyusul adanya keluhan warga Penghuni Perumahan Bersubsidi Eshan Hanan Residence Desa Cepoko Kuning, Kecamatan Batang Kabupaten Batang, terkait belum adanya Fasilitas Umum seperti Musholla, listrik yang masih menumpang dengan Perumahan sebelah, dan lain sebagainya. Akhirnya warga Perumahan didampingi DPP Gerakan Nasional Pelita Bangsa (GNPB) menggelar audensi di Ruang Rapat Dinas Perkim Kabupaten […]

  • Polres Lumajang Tangkap Lima Pengedar Narkoba, Dua Diantaranya Residivis

    Polres Lumajang Tangkap Lima Pengedar Narkoba, Dua Diantaranya Residivis

    • calendar_month Jumat, 12 Jul 2024
    • account_circle Pom py
    • visibility 416
    • 0Komentar

    Lumajang, RI – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Lumajang berhasil membekuk lima orang terduga pengedar narkoba jenis sabu, ekstasi, dan ganja. Para tersangka ditangkap di lokasi yang berbeda dalam kurun waktu 10 hari. Wakapolres Lumajang Kompol I Komang Yuwandi Sastra, S.H., S.I.K, mengungkapkan identitas para tersangka yaitu AP (25) warga Kencong, Jember, N (33) warga […]

  • Polres Pulang Pisau laksanakan Upacara Pembukaan Latja Diktuk Bintara Polri SPN Polda Kalteng

    Polres Pulang Pisau laksanakan Upacara Pembukaan Latja Diktuk Bintara Polri SPN Polda Kalteng

    • calendar_month Senin, 6 Jun 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 291
    • 0Komentar

    PULANG PISAU – RI, Polres Pulang Pisau, Polda Kalteng melaksanakan Upacara pembukaan Latihan Kerja Siswa Diktuk Bintara Polri Tahun 2022 di Lapangan Apel Mapolres Pulang Pisau, Kamis (02/06/2022) pagi. Kegiatan tersebut di Pimpin oleh Kapolres Pulang Pisau AKBP Kurniawan Hartono, S.I.K., dan diikuti oleh Para PJU Polres serta seluruh Personel Polres Pulang Pisau. Kabag SDM […]

  • Turnamen Karate Piala Panglima TNI Tahun 2024, Kodim 0815/Mojokerto Siapkan 10 Atlet Karate Terbaik

    Turnamen Karate Piala Panglima TNI Tahun 2024, Kodim 0815/Mojokerto Siapkan 10 Atlet Karate Terbaik

    • calendar_month Selasa, 15 Okt 2024
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 408
    • 0Komentar

    MOJOKERTO, RI. Meriahkan HUT Ke-79 TNI, Mabes TNI menggelar berbagai ajang turnamen, salah satunya Turnamen Karate Piala Panglima TNI yang akan diselenggarakan Kamis (17/10) di GOR Futsal Internasional Unesa Surabaya, Jawa Timur. Berkaitan turnamen tersebut, Kodim 0815/Mojokerto, di Ruang Data Makodim 0815, Jalan Majapahit Nomor 1, Kota Mojokerto, Senin (14/10/2024), bekerja sama dengan FORKI (Ferderasi […]

  • Irdam XII/Tpr Hadiri Pelantikan Penjabat Bupati Kayong Utara

    Irdam XII/Tpr Hadiri Pelantikan Penjabat Bupati Kayong Utara

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2024
    • account_circle Pom py
    • visibility 381
    • 0Komentar

    Pontianak, RI – Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M., diwakili Irdam XII/Tpr Brigjen TNI Febriel B. Sikumbang, S.H., M.M., menghadiri pelantikan Penjabat Bupati Kayong Utara. Acara berlangsung di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalimantan Barat. Acara dihadiri juga pejabat Forkopimda Prov. Kalbar dan Kabupaten Kayong Utara. Pelantikan dipimpin langsung oleh Pj. Gubernur Kalbar, dr. […]

expand_less