Breaking News
light_mode
Trending Tags

Dukun, Sinshe, Tabib vs Dokter: Siapa Tukang Sembuh Paling Manjur?

  • account_circle Redaksi Pagi
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 49
  • print Cetak

SAMPANG, RI – Fenomena pengobatan di tengah masyarakat senantiasa menarik perhatian, terutama terkait eksistensi dan pergeseran makna profesi penyembuh tradisional seperti dukun, sinshe, dan tabib jika dibandingkan dengan profesi dokter modern. Kendati memiliki muara tujuan yang sama — yakni mengupayakan kesembuhan pasien — keempat profesi ini bergerak di atas landasan metodologi, sumber ilmu, dan wilayah praktik yang bertolak belakang.

Secara mendasar, dokter modern berpijak pada sains empiris dan berbasis bukti (evidence-based). Sementara itu, sinshe mengacu pada tradisi pengobatan Tiongkok (TCM) yang holistik dengan teori keseimbangan energi Yin dan Yang. Di sisi lain, tabib mendasarkan praktiknya pada pendekatan tradisional Timur Tengah atau Melayu yang berfokus pada unsur alam dan herbal.

Adapun dukun penyembuh atau praktisi terapi tradisional asli Nusantara, sebetulnya merupakan bagian dari kearifan lokal (local wisdom) yang telah berabad-abad membantu masyarakat melalui metode empiris-lokal, pijat, ramuan, hingga pendekatan spiritual. Sayangnya, istilah dukun kerap mengalami stigma negatif akibat ulah oknum dukun palsu yang melakukan penipuan, praktik mistis yang menyimpang dari syariat agama, serta pengabaian standar higienitas medis yang berisiko memperburuk kondisi pasien.

Menariknya, stigma negatif terhadap istilah “dukun” kini mengalami generalisasi yang luar biasa di tengah masyarakat dan media massa. Ada kecenderungan sosiologis di mana setiap kali terjadi kesalahan fatal — mulai dari penipuan uang hingga kasus pencabulan — pelakunya hampir selalu dilabeli atau dikaitkan dengan istilah “dukun”, “dukun cabul”, atau “orang pintar”.

Padahal, dalam realita penegakan hukum, tidak jarang oknum pelaku kejahatan tersebut sejatinya berlatar belakang sebagai pemuka agama, oknum kiai, ustaz, pengobat alternatif, maupun tokoh masyarakat yang dihormati. Label “dukun” seolah menjadi kambing hitam bahasa (linguistic scapegoat) untuk menyelamatkan institusi atau gelar keagamaan agar tidak ikut tercoreng. Ketika seorang oknum spiritualis atau pemuka komunitas melakukan pelanggaran moral yang berat, di ruang publik ada keengganan menyebut status aslinya karena faktor psikologis masyarakat. Fenomena yang terjadi: labelnya bergeser menjadi “dukun” demi memisahkan tindakan kriminal tersebut dari kesucian nilai agama atau profesi aslinya.

Fenomena ini tak lepas dari psikologi bahasa masyarakat. Istilah berbau Arab seperti tabib, hikmah, rukiah, syifa, makbul secara sosiologis terlanjur dianggap suci karena tiga faktor. Pertama, bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an sehingga melekat kesan religius dan otoritatif. Kedua, warisan Walisongo di Jawa dan ulama di Madura memakai istilah Arab untuk melawan praktik animisme, sehingga kata Arab = Islam = bersih. Ketiga, ada efek “halo suci” — masyarakat awam cenderung memaafkan atau menoleransi kesalahan jika pelakunya pakai sorban, jubah, dan istilah Arab, karena dianggap wakil agama. Akibatnya, begitu ada oknum kiai atau ustaz cabul, publik cenderung menggeser labelnya. Kesan kesucian institusi agama terjaga, yang kena getah tetap istilah lokal “dukun”.

Lebih parah lagi, apa pun yang berbau Jawa justru otomatis dicurigai sebagai perdukunan. Pakai blankon, beskap, keris, sesajen, atau tirakat di gunung langsung dicap klenik dan syirik. Padahal itu pakaian adat dan laku budaya. Bahkan kiai yang masih melestarikan tradisi Jawa — seperti selametan, tahlilan pakai kenduri, ziarah kubur bawa kembang — sering dituduh “kiai dukun” atau “Islam kejawen” oleh kelompok puritan. Simbol Jawa seakan tidak punya ruang pembelaan. Sebaliknya, simbol Arab kerap mendapat asosiasi positif. Jubah, sorban, jenggot, dan istilah Arab sering dipersepsikan sebagai “paling syar’i” dan kebal kritik. Standar ganda ini yang bikin istilah lokal makin terpinggirkan, sementara yang impor dianggap paling benar tanpa diuji dulu.

Fenomena bias istilah ini juga sering diluruskan oleh banyak tokoh agama. Batas utama yang membedakan seorang penyembuh sejati dengan dukun sesat adalah kesesuaian metodenya dengan syariat dan tidak adanya unsur penipuan serta kemusyrikan. Umat diingatkan agar tidak terjebak oleh penampilan luar — seperti jubah, serban, atau embel-embel “orang pintar” — karena pakaian tidak menjamin lurusnya akidah dan metode.

Terlepas dari dinamika sosial dan perbedaan jalur metodologi tersebut, seluruh lini pengobatan ini nyatanya dipertemukan oleh satu fenomena ilmiah yang sama di dalam dunia medis, yaitu efek plasebo (placebo effect). Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh psikologis dan hubungan antara pikiran (mind) serta tubuh (body) dalam proses pemulihan fisik.

Di dunia medis modern, plasebo umumnya digunakan sebagai alat ukur ketat dalam uji klinis obat baru, di mana pasien yang hanya meminum pil gula tanpa zat aktif pun bisa mengalami perbaikan gejala hingga 30% berkat pelepasan hormon endorfin dan dopamin akibat sugesti.

Sementara dalam ranah sinshe, tabib, rukiah keagamaan, maupun terapi tradisional yang lurus, efek plasebo ini justru dioptimalkan sebagai “senjata utama”. Melalui ritual pemeriksaan nadi yang mendalam, aroma herbal yang kuat, sentuhan fisik, hingga untaian doa spiritual yang tulus, para praktisi berhasil membangun ketenangan batin pasien. Jiwa yang tenang dan penuh keyakinan inilah yang secara biologis mendongkrak sistem imunitas tubuh untuk melawan penyakit.

Pada akhirnya, perbedaan mendasar terletak pada porsinya. Medis modern melarang ketergantungan pada plasebo untuk penyakit organik kronis dan tetap mewajibkan adanya zat aktif yang teruji klinis. Sebaliknya, pengobatan alternatif yang bertanggung jawab memadukan khasiat alami herbal dengan kekuatan sugesti serta keyakinan spiritual guna mencapai kesembuhan yang menyeluruh secara holistik. Selama tidak digunakan untuk penipuan atau kedok kejahatan moral, kolaborasi antara pemulihan fisik dan kekuatan psikologis ini tetap menjadi berkah alami bagi kesembuhan manusia.

(Nas/Red)

  • Penulis: Redaksi Pagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Babinsa Koramil 01/Kota Pasuruan Hadiri Sosialisasi Perlindungan Masyarakat Dan Peningkatan Sinergitas Satlinmas

    Babinsa Koramil 01/Kota Pasuruan Hadiri Sosialisasi Perlindungan Masyarakat Dan Peningkatan Sinergitas Satlinmas

    • calendar_month Kamis, 25 Mei 2023
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Pasuruan, RI – Dalam upaya meningkatkan perlindungan masyarakat dan sinergitas, Babinsa Koramil 0819/01 Kota Pasuruan Serda Totok menghadiri kegiatan Sosialisasi Peta Potensi Perlindungan Masyarakat dan peningkatan Sinergitas Satlinmas bersama Satuan Polisi Pamong Praja Kota bertempat di Pendopo Kel. Tapaan Kec. Bugul kidul Kota Pasuruan. Rabu (24/05/23). Kegiatan Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat […]

  • Pergi Mandi Di Air Terjun Siling Beroban, Seorang Remaja Tewas Tenggelam

    Pergi Mandi Di Air Terjun Siling Beroban, Seorang Remaja Tewas Tenggelam

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Pom py
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Ketapang ,RI-Seorang remaja ditemukan tewas setelah tenggelam saat berenang di kawasan Air Terjun Siling Beroban di Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang, pada Sabtu (30/11/2024) pukul 15.00 wib. Korban saat itu diketahui pergi mandi berenang bersama kedua temannya. Kapolres Ketapang AKBP Setiadi, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Simpang Dua IPDA Slamet, mengatakan korban merupakan […]

  • Aksi Kapolsek Mojoroto Polres Kediri Kota, Belikan Becak Baru Untuk Ponijan Yang Menjadi Korban Pencurian Becak

    Aksi Kapolsek Mojoroto Polres Kediri Kota, Belikan Becak Baru Untuk Ponijan Yang Menjadi Korban Pencurian Becak

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2021
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 259
    • 0Komentar

    KEDIRI – RI, Kapolsek Mojoroto Polres Kediri Kota, Kompol Muhklason telah melakukan hal tidak biasa. Ia membelikan becak baru untuk Tukang Becak yang bernama Ponijan warga Kelurahan Campurejo Kecamatan Mojoroto yang melapor telah  kehilangan becaknya, Kamis (2/12/2021). Menurut Kapolsek Mojoroto Kompol Mukhlason, berawal seorang pria bernama Ponijan (55) warga Kelurahan Campurejo Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri […]

  • Polsek Kangayan Kembali Ungkap Kasus Tindak Pidana Pencurian Pembobol Toko

    Polsek Kangayan Kembali Ungkap Kasus Tindak Pidana Pencurian Pembobol Toko

    • calendar_month Selasa, 15 Nov 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 368
    • 0Komentar

    SUMENEP – RI, Minggu 13 Nopember 2022, telah dilakukan penangkapan terhadap Tersangka Bambang Proyoga alias Bambang yang diduga telah melakukan pencurian dengan pemberatan berupa isi toko milik Korban Hasinuddin Desa Saobi Kecamatan Kangayan Kabupaten Sumenep Ujung Timur Madura, Jawa Timur. Sebagai Pelapor atas nama Fatimah/Istri Korban Hasinuddin umur 48 tahun, Alamta Dusun Lao’nna Desa Saobi […]

  • Desa Purworejo Kecamatan Sanankulon Laksanakan Program  PKTD Tahun Anggaran 2021 Budidaya Jahe Merah

    Desa Purworejo Kecamatan Sanankulon Laksanakan Program PKTD Tahun Anggaran 2021 Budidaya Jahe Merah

    • calendar_month Selasa, 1 Feb 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 344
    • 0Komentar

    BLITAR – RI, Dimasa vandemi tidak menyurutkan semangat bagi Kepala Desa yang satu ini. Betapa tidak setelah keberhasilannya menanam pisang jenis cavendish, Beliau mencari terobosan baru dibidang budidaya empon -empon jahe merah dan jahe lokal. Selain gampang perawatannya juga sangat mudah dalam penjualannya. Secara geografis lahan untuk penanan empon -empon tersebut sangat subur, dikarenakan puluhan […]

  • Nyata! Dana Hibah BNPB Kucur Rp. 10,29 M Ke Sampang, Enam Proyek Vital Jadi Jaminan Ekonomi Baru

    Nyata! Dana Hibah BNPB Kucur Rp. 10,29 M Ke Sampang, Enam Proyek Vital Jadi Jaminan Ekonomi Baru

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    SAMPANG,RI – Pasca-diterjang bencana, Kabupaten Sampang kini resmi memiliki infrastruktur penunjang ekonomi baru. Bupati H Slamet Junaidi—yang akrab disapa Aba Idi—baru saja meresmikan enam proyek vital yang dibiayai penuh oleh program rehabilitasi dan rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dana yang digelontorkan untuk proyek ini tidak main-main, mencapai Rp10,29 Miliar! Proyek Miliar Rupiah Selamatkan Akses […]

expand_less