Gandeng World Bank, Pemkot Cimahi Targetkan TPST Santiong Olah 85 Ton Sampah per Hari
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 55 menit yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

CIMAHI, RI– Pemerintah Kota Cimahi terus mematangkan strategi penanganan sampah perkotaan demi lepas dari ketergantungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang kian kritis. Langkah strategis ini mendapat peninjauan langsung dari World Bank, Central Project Implementation Unit (CPIU), dan Central Project Management Unit (CPMU) lewat agenda Implementation Support Mission Program ISWMP, Senin (18/5/2026).
Pertemuan yang diawali di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi dan dilanjutkan dengan pengecekan lapangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong ini menjadi ajang evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan limbah di Cimahi.Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah pusat dan World Bank merupakan momentum krusial untuk mempercepat realisasi kebijakan Zero to TPA. Terlebih, TPA Sarimukti saat ini sudah mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity).”Kami sangat mengapresiasi dukungan Program ISWMP dari pusat dan World Bank. Bantuan ini krusial bagi Cimahi dalam membangun sistem manajemen sampah yang modern, terintegrasi, serta berkelanjutan,” ujar Ngatiyana.
Fokus utama Pemkot Cimahi saat ini adalah mendongkrak volume pengolahan sampah di dua fasilitas utama. TPST Santiong ditargetkan mampu mengolah hingga 85 ton sampah per hari, sementara TPST Lebaksaat diproyeksikan menyerap 10 ton per hari.Untuk mengejar target tersebut, pemerintah daerah akan menyuntikkan mesin pengolahan baru yang dijadwalkan terealisasi pada pertengahan tahun ini.”Selama ini TPST Santiong dan Lebaksaat masih dalam fase uji coba dan evaluasi. Ke depan, fasilitasnya akan kami sempurnakan agar operasionalnya bisa berjalan jauh lebih maksimal,” jelas Ngatiyana.
Selain mengandalkan dua TPST besar tersebut, Cimahi juga akan memasang mesin pengolahan skala kecil di tingkat kawasan guna memotong rantai pembuangan sampah langsung ke TPA.
Sistem pengelolaan sampah ini tidak hanya bertumpu pada teknologi, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan kelembagaan.
Di tingkat hulu, Pemkot Cimahi menggalakkan gerakan Hari Organik dan Hari Anorganik di masyarakat, serta menugaskan para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengawal pemilahan sampah di tingkat RT.
Dukungan sarana juga terus diperkuat.Melalui Program ISWMP, Cimahi mendapat tambahan armada operasional mulai dari truk pengangkut sampah, mobil pikap, hingga motor sampah.Dari sisi manajemen, UPTD Pelayanan Persampahan kini didorong bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Hal ini dibarengi dengan penguatan regulasi serta penataan sistem retribusi daerah yang lebih akuntable. Melalui misi evaluasi bersama World Bank ini, Pemkot Cimahi optimistis infrastruktur yang telah dibangun mampu beroperasi efektif.
Perubahan pola pikir warga untuk memilah sampah dari rumah diharapkan menjadi kunci utama suksesnya program lingkungan bersih ini. Ungkapnya. R. Harry KP.
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar