Event Organizer Festival Tao Toba Joujou 2026 Larang Wartawan Samosir Untuk Dokumentasi di Panggung
- account_circle Radar Indonesia
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- print Cetak

Event Organizer Festival Tao Toba Joujou 2026 Larang Wartawan Samosir Untuk Dokumentasi di Panggung
Pangururan, RI – Festival Tao Toba Joujou 2026 diadakan Tanggal 6 – 8 Agustus 2026 kemarin, yang merupakan kolaborasi Bank Indonesia Sibolga bersama EKRAF dan Pemerintah Kabupaten Samosir di Waterfront City Segmen V Pangururan, Kabupaten Samosir berlangsung meriah.
Namun sangat disayangkan, EO (Event Organizer) dari Festival Tao Toba Joujou 2026 melarang wartawan Samosir untuk photo dokumentasi di panggung.
Peristiwa ini dialami oleh Samsir Apranto Sitanggang, wartawan dari Deliksumut.com, yang bertugas di Kabupaten Samosir, ketika untuk poto dokumentasi kegiatan festival di panggung yang berlangsung pada hari Sabtu sore (8/08/2026) sekitar pukul 15. 16 WIB, dilarang salah satu kru dari EO (Event Organizer) tersebut.
Menanggapi kejadian tersebut, beberapa wartawan yang bertugas di Samosir yang berada di lokasi Festival Tao Toba Joujou 2026 ingin mengklarifikasi dan menjelaskan ke Dinas Kominfo Samosir , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, Humas Bank Indonesia Sibolga dan pihak dari EO selaku panitia penyelenggara yang terkait tentang mekanisme akses media dalam kegiatan tersebut.
Ketua SMSI Kabupaten Samosir, Tetty Marlina Naibaho menyampaikan, jika terdapat pembatasan akses terhadap area tertentu, termasuk panggung, aturan tersebut seharusnya disampaikan sejak awal atau konferensi pers sebelum festival berlangsung kepada seluruh wartawan yang melakukan peliputan.
“Kalau memang ada ketentuan media harus terdaftar atau menggunakan badge, seharusnya mekanisme itu disampaikan secara terbuka dari sejak awal kepada seluruh wartawan yang datang meliput,” ungkap Tetty.
Dia menambahkan, pembatasan akses dapat dipahami apabila berkaitan dengan keamanan atau keterbatasan kapasitas lokasi. Namun, aturan tersebut harus jelas dan diberlakukan secara adil kepada seluruh media.
“Jika memang demi keamanan atau keterbatasan kapasitas panggung, tentu bisa dipahami. Tetapi harus ada aturan yang jelas dan diberlakukan secara adil kepada seluruh media,” ucapnya.
Sekitar pukul 16.46 WIB, beberapa wartawan mendampingi Samsir Sitanggang mendatangi kru dari event organizer ke lokasi festival yang melarang Samsir Sitanggang untuk poto dokumentasi pada saat kegiatan berlangsung untuk mempertanyakan kejadian tersebut.
Samsir Sitanggang mempertanyakan kepada kru yang melarang tersebut, atas dasar apa larangan tidak boleh untuk poto dokumentasi untuk dirinya di panggung festival.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Samsir Sitanggang dan wartawan yang lain yang berada di lokasi, Irawan Tanjung mewakili dari EO (Event Organizer) Action menjawab, yang diperbolehkan mengambil dokumentasi dari atas panggung harus berasal dari media yang telah terdaftar dan menggunakan badge dari panitia.
“Yang meliput kegiatan harus resmi dan pakai badge dari panitia,” ujar Irawan.
Samsir kemudian mempertanyakan alasan pembatasan tersebut, karena pada waktu bersamaan terdapat sejumlah orang yang diperbolehkan berada di atas panggung untuk mengambil dokumentasi.
Irawan Tanjung juga menjelaskan bahwa pihak yang mendapat akses merupakan media yang telah masuk dalam daftar koordinasi panitia.
“Karena mereka sudah terdaftar di panitia,” ujarnya.
Malam harinya setelah selesainya festival sesuai yang dijanjikan Irawan Tanjung sekitar pukul 23.30 WIB, beberapa wartawan meminta klarifikasi kepada Rani Eranica Sembiring selaku humas kegiatan dari Bank Indonesia Sibolga, Irawan Tanjung mewakili dari Event Organizer Action serta Kepala bidang Togarma Naibaho mewakili dari Dinas Kominfo Kabupaten Samosir.
Togarma Naibaho berkata, bahwa wartawan memang tidak diperbolehkan naik ke atas panggung karena demi keamanan dan keselamatan.
“Bahkan dari kominfo juga tidak diperbolehkan naik ke panggung untuk dokumentasi, karena sudah memang begitu peraturan dari Event Organizer Action tersebut”, pungkasnya.
Rani Eranica Sembiring juga menambahkan, dari humas juga tidak diperbolehkan naik ke atas panggung untuk poto dokumentasi selama festival berlangsung karena itu memang peraturan dari EO.
Dian Sinaga wartawan dari Mistar id. sangat menyayangkan sikap dan profesionalisme humas Bank Indonesia dan Event Organizer Action tersebut
Dia bertanya kepada Rani Eranica Sembiring dan Irawan Tanjung, kenapa tidak ada dibuat tulisan maupun spanduk yang yang melarang bahwa wartawan tidak bisa naik ke atas panggung untuk poto dokumentasi selama acara berlangsung.
“Seperti di SPBU, dituliskan dilarang merokok, maka semua pengendara bermotor maupun yang lainnya yang memasuki area SPBU tidak ada yang merokok. Begitu juga seperti ini, sebelum festival berlangsung, kenapa tidak ada tulisan seperti itu”, jelasnya.
Irawan Tanjung juga menjawab dan berkata, memang sudah seperti itu peraturannya.
Dian Sinaga lanjut bertanya, peraturan dari mana dasar kalian ?
“Peraturan dari kantor kami sendiri”, jawab Irawan.
Mendengar jawaban dari Humas Bank Indonesia Sibolga Rani Eranica Sembiring dan Irawan Tanjung yang merupakan perwakilan EO (Event Organizer) Action tersebut, beberapa wartawan yang berada di lokasi sangat menyayangkan tindakan dan kecewa atas profesionalisme kerja dari Humas Bank Indonesia dan Event Organizer Action pada saat Festival Tao Toba Joujou 2026 tersebut yang melarang wartawan naik ke panggung untuk poto dokumentasi.
(Jackson Pandiangan)
- Penulis: Radar Indonesia




Saat ini belum ada komentar