Dari Keterbatasan Menuju Inspirasi Global: Cimahi Jadi Laboratorium Sanitasi Internasional
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- visibility 78
- print Cetak

Cimahi Jadi Laboratorium Sanitasi Internasional
CIMAHI, RI– Keterbatasan wilayah dan kepadatan penduduk tak menghalangi Kota Cimahi untuk bersinar di kancah internasional. Kota di Jawa Barat ini sekali lagi didapuk menjadi pusat pembelajaran global, kali ini dalam pengelolaan sanitasi.
Sebuah delegasi dari Pemerintah Vietnam bertandang ke Cimahi selama empat hari (12–15 Januari 2026) untuk mendalami praktik terbaik Indonesia dalam layanan air minum, sanitasi, dan higiene (WASH). Kunjungan ini merupakan bagian dari program pertukaran pengetahuan yang diinisiasi oleh UNICEF Indonesia, Bappenas, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
Fokus utama studi banding ini adalah model Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) yang terbukti adaptif menghadapi tantangan iklim di perkotaan padat.
Puncak kunjungan terjadi saat delegasi menyambangi RW 14, Kelurahan Baros, pada Selasa (13/1/26). Di lokasi ini, rombongan yang dipimpin oleh Mr. Luong Van Anh, Deputy Director General Kementerian Pertanian dan Lingkungan Vietnam, menyaksikan langsung “dapur” pengelolaan sistem sanitasi komunal.
Yang membuat Cimahi istimewa adalah pendekatan partisipatifnya. Di tengah ruang yang terbatas, warga bukan sekadar penerima manfaat, melainkan aktor utama dari perencanaan hingga pemeliharaan sistem.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menekankan bahwa sanitasi adalah investasi masa depan. “Sanitasi adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan, kualitas lingkungan, dan ketahanan kota menghadapi perubahan iklim,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat menjamin keberlanjutan layanan.
Di Baros, Ketua RW 14, Johny George Laurenz, memaparkan hasil nyata: dua unit Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) telah beroperasi, melayani total 155 kepala keluarga. Dampaknya signifikan, praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) nyaris sepenuhnya ditinggalkan.
“Awalnya ada kekhawatiran air sumur tercemar. Lewat pendekatan persuasif dan pengelolaan yang baik, IPAL terbukti tidak berbau. Kini hampir seluruh warga RW 14 berhenti BABS,” jelasnya.
Model Cimahi dinilai relevan bagi Vietnam yang menghadapi tantangan serupa. Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi lintas negara yang lebih erat. R. Harry KP.
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar