Gus Anas: Ritual Adat adalah Terapi Spiritual menuju Kemanunggalan Ilahi
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
- visibility 102
- print Cetak

SAMPANG, RI – Tokoh terapis dan spiritual, Gus Anas, memberikan pandangan yang mendalam mengenai praktik ritual yang kerap kali disalahpahami oleh sebagian kalangan. Menurutnya, kegiatan ritual yang dilakukannya murni merupakan bagian dari upacara adat dan budaya warisan leluhur yang substansinya berfokus pada kemanunggalan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal.
Gus Anas menekankan bahwa praktik ini jauh dari anggapan menyesatkan atau praktik di luar ajaran agama. Ia menjelaskan bahwa ritual tersebut berfungsi sebagai cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur, memelihara tradisi, sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta—sebuah terapi untuk keseimbangan batin.
Makna Terapi dalam Upacara
Dalam penjelasannya, Gus Anas menguraikan bahwa ritual adat seringkali kaya akan simbol dan filosofi yang mengajarkan nilai-nilai luhur dan berfungsi sebagai penyembuhan mental-spiritual.
”Ritual itu bukan sekadar gerakan fisik. Intinya adalah kebersihan hati, niat tulus, dan kesadaran penuh bahwa semua yang kita lakukan adalah upaya mendekatkan diri, kamanunggulan (penyatuan spiritual) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah cara kita sebagai umat manusia, yang dibalut tradisi, untuk berserah diri dan mencapai kedamaian batin,” tegas Gus Anas.
Ia juga menyoroti pentingnya melestarikan kearifan lokal sebagai bagian dari terapi holistik.
Menurutnya, banyak ritual yang mengandung nilai-nilai moral, ekologi, dan sosial yang sangat relevan untuk mengatasi kegelisahan modern, sehingga menciptakan keseimbangan psikologis dalam komunitas.
Menepis Anggapan Negatif
Menanggapi kritik dan pandangan negatif yang kerap mengarah pada kegiatan ini, Gus Anas mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dan terbuka dalam melihat praktik kebudayaan.
”Kami menyayangkan jika ada pihak-pihak yang langsung melabeli kegiatan ini sebagai hal yang menyesatkan tanpa melihat esensi dan sejarahnya. Niat kami jelas, yaitu menjaga budaya sekaligus beribadah. Tidak ada unsur syirik atau penyimpangan akidah dalam praktik kami, karena tujuan akhirnya hanya satu: Tuhan Yang Maha Tunggal,” pungkasnya.
Pernyataan Gus Anas ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jernih kepada publik mengenai peran ritual sebagai sarana terapi spiritual dan menjadi ajakan untuk menghargai keberagaman cara masyarakat Indonesia dalam menjalankan keyakinan dan melestarikan budayanya.
(G.nas)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar