Jejak Dasep Ahmadi dan Ambisi Evina: Menenun Kembali Mimpi Mobil Nasional
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
- visibility 71
- print Cetak

JAKARTA, RI – Di balik hiruk-pikuk industri otomotif yang didominasi raksasa global, terselip sebuah nama yang membawa harapan besar bagi kemandirian teknologi Indonesia: Dasep Ahmadi. Ia bukanlah sosok yang mengejar panggung popularitas, melainkan seorang pengusaha visioner yang mendedikasikan langkahnya untuk membangkitkan kembali ruh mobil nasional yang telah lama mati suri.
Melalui bendera PT SAP, Dasep memperkenalkan Evina—sebuah akronim penuh makna dari Electric Vehicle Indonesia. Evina hadir bukan sekadar sebagai alat transportasi, melainkan pernyataan bahwa anak bangsa mampu merancang masa depan mobilitas yang berkelanjutan.
Secara desain, Evina tampil sebagai kendaraan kompak yang ramah perkotaan namun tetap fungsional dengan kapasitas lima penumpang. Di balik bodinya yang ringkas, tertanam motor listrik berkekuatan 20 kWh yang ditenagai oleh baterai lithium-ion. Dengan proses pengisian daya selama 4 hingga 5 jam, mobil ini mampu melaju hingga sejauh 130 kilometer, sebuah pencapaian yang sangat kompetitif untuk penggunaan harian di masanya. Dengan harga jual di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 300 juta, mobil ini diposisikan sebagai solusi transportasi masa depan yang modern namun tetap terjangkau.
Satu hal yang paling mencuri perhatian dari karya Dasep ini adalah efisiensinya yang luar biasa jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Bayangkan saja, ketika pemilik mobil berbahan bakar minyak (BBM) rata-rata harus merogoh kocek sekitar Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per bulan untuk operasional, pengguna Evina diklaim hanya membutuhkan biaya konsumsi listrik sebesar Rp 50.000 hingga Rp 60.000. Penghematan biaya yang sangat drastis ini menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang mendambakan kendaraan hemat energi.
Mimpi Dasep pun tak berhenti pada perakitan unit semata, karena gaung proyek ini mulai memicu geliat industri pendukung di dalam negeri. PT Nipress Tbk bahkan sempat menyatakan kesiapannya untuk memproduksi baterai jenis Lithium Ferro Phosphate (LFP) secara lokal guna mendukung kemandirian komponen. Meskipun saat itu tantangan pasar domestik masih cukup besar, langkah ini menjadi fondasi awal bagi terciptanya ekosistem energi mandiri di tanah air.
Gebrakan ini pun menuai apresiasi luas, termasuk dari kalangan pers di daerah. Jurnalis Radar Indonesia Biro Sampang menyatakan rasa bangganya atas dedikasi Dasep Ahmadi yang berani memelopori teknologi ramah lingkungan di tanah air. Kisah Dasep Ahmadi dan Evina adalah potret tentang keberanian melawan arus, sebuah pengingat bahwa jalan menuju kemandirian teknologi memang terjal, namun langkah pertama telah diayunkan demi kebanggaan nasional di aspal jalanan. (Nas)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar