Kemarau Belum Berakhir, 659 Warga Kubu Raya Terima 10.000 Liter Air Bersih
- account_circle Pom py
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

Kemarau msh berlangsung pembagian. Air bersih melalui polres Kubu raya terus berlangsung
KUBU RAYA,RI– Kemarau panjang terus menghimpit masyarakat Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saat sumber air semakin terbatas, kebutuhan air bersih melonjak dan menjadi persoalan mendesak. Di sisi lain, lahan yang mengering, terutama kawasan gambut, turut meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah kondisi tersebut, Polres Kubu Raya kembali menyalurkan 10.000 liter air bersih siap konsumsi kepada sedikitnya 659 warga di empat lokasi, yakni Jalan Sungai Raya Dalam, Rumah Bugis Baroga Ogi, Jalan Wonodadi 2, Desa Arang Limbung, serta Desa Jawa Tengah.
Air bersih itu bersumber dari hasil pengolahan air PT Alas Kusuma. Penyaluran dilakukan Polres Kubu Raya bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya dan berkolaborasi dengan Forum Pembaharuan Kebangsaan (FPK) Provinsi dan Kabupaten Kubu Raya.
Distribusi air tidak semata-mata menjadi respons atas warga yang kesulitan mendapatkan air. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak kemarau yang berpotensi meluas ke berbagai sektor, mulai dari kebutuhan dasar masyarakat hingga ancaman karhutla dan gangguan terhadap lahan pertanian.
Kondisi ini menjadi semakin penting diperhatikan karena kekeringan berkepanjangan dapat membuat sumber air menyusut, sementara lahan gambut yang kehilangan kelembapannya menjadi lebih rentan terbakar. Jika kebakaran terjadi dan meluas, dampaknya dapat kembali dirasakan masyarakat melalui asap dan memburuknya kualitas lingkungan.
Karena itu, Polres Kubu Raya bersama pemerintah daerah melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem. Pemetaan mencakup daerah yang rawan karhutla, wilayah yang mengalami kesulitan air bersih, hingga kawasan pertanian yang berisiko terdampak kekeringan dan gagal panen.
Pendataan tersebut juga diarahkan untuk mengantisipasi dampak sosial. Terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar, jika tidak ditangani secara tepat, dapat memicu persoalan baru di tengah masyarakat.
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade mengatakan, kepolisian melakukan pendataan terhadap wilayah dan jumlah masyarakat yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih sebagai bagian dari langkah antisipasi.
“Dalam mengantisipasi krisis air bersih, Polres Kubu Raya melakukan pendataan wilayah dan jumlah masyarakat yang berpotensi mengalami kesulitan air bersih. Data ini menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan bersama pemerintah daerah dan stakeholder terkait,” kata Ade, Kamis (17/9/26).
Menurut Ade, koordinasi lintas instansi diperlukan agar distribusi air bersih benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Kepolisian juga memastikan kegiatan penyaluran berlangsung tertib.
“Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait agar distribusi air bersih siap konsumsi tepat sasaran. Pengamanan juga dilakukan agar proses distribusi berjalan tertib dan tidak menimbulkan persoalan atau konflik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Di tingkat desa, Bhabinkamtibmas dioptimalkan untuk memantau perkembangan kondisi masyarakat secara berkala. Informasi dari lapangan digunakan untuk menginventarisasi wilayah terdampak, termasuk desa dan kelurahan, lahan gambut, kawasan pertanian dan perkebunan, sumber air, embung, sumur bor, hingga fasilitas umum yang mengalami dampak kekeringan.
Pemantauan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD, BMKG, pemerintah daerah, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Perumda/PDAM, serta instansi terkait lainnya.
Antisipasi juga diarahkan pada dampak ekonomi yang mungkin muncul selama krisis air dan kekeringan. Polres Kubu Raya melakukan pemantauan terhadap kemungkinan penimbunan maupun permainan harga kebutuhan pokok dan air bersih.
“Selain persoalan ketersediaan air, kami juga melakukan pemantauan terhadap potensi penimbunan atau permainan harga kebutuhan pokok dan air bersih. Jangan sampai kondisi masyarakat yang sedang menghadapi kekeringan dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dengan cara yang merugikan warga,” kata Ade.
Bagi masyarakat yang menghadapi kemarau panjang, persoalan air bukan hanya tentang ada atau tidaknya air untuk diminum. Ketika sumber air menyusut, kebutuhan rumah tangga, aktivitas pertanian, perkebunan, hingga kehidupan sosial ikut berada dalam tekanan.
Karena itu, distribusi air, pemetaan wilayah, pendataan warga, pengawasan, dan koordinasi lintas instansi dilakukan sebagai rangkaian antisipasi menghadapi dampak kemarau panjang. Pendekatan tersebut diharapkan memungkinkan penanganan dilakukan lebih awal sebelum kesulitan air meluas.
Sebanyak 10.000 liter air bersih siap konsumsi yang disalurkan di empat lokasi menjadi salah satu langkah konkret menghadapi tekanan kemarau yang masih berlangsung di Kubu Raya. Di tengah sumber air yang kian terbatas, distribusi air bersih bersama stekholder terkait menjadi upaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terlayani.
Muly / Juan
- Penulis: Pom py




Saat ini belum ada komentar