KH. Ahmad Rifa’i: Kapitalisme Membuat Manusia Lupa Cara Bertanya Tentang Makna Hidup
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
- visibility 81
- print Cetak

KH. Ahmad Rifa’i
GRESIK, RI – Di tengah hiruk-pikuk tuntutan ekonomi modern, sosok pemuka agama sekaligus guru spiritual, KH. Ahmad Rifa’i, memberikan renungan mendalam mengenai fenomena masyarakat saat ini yang terjebak dalam pusaran produktivitas tanpa henti. Beliau menyoroti bagaimana sistem kapitalisme secara perlahan merenggut ruang refleksi manusia terhadap hakikat kehidupannya sendiri.
Dikenal sebagai sosok guru yang keras dan disiplin, KH. Ahmad Rifa’i bukanlah pribadi yang kejam. Ketegasannya justru lahir dari kasih sayang yang dalam agar para jemaahnya tidak “lembek” dan hanyut ditelan arus zaman.
Dalam sebuah kesempatan, beliau mengulas kritis mengenai bagaimana dunia saat ini mendesain manusia untuk terus sibuk bekerja agar mereka lupa menanyakan satu hal fundamental: “Untuk apa kita hidup?”. KH. Ahmad Rifa’i menekankan bahwa nilai manusia di era sekarang seringkali hanya diukur dari angka produktivitas semata.
“Kita dipaksa mengejar angka sampai lupa mengejar makna,” ungkap pesan spiritual tersebut. Fenomena kerja tanpa henti, target yang terus naik, dan lembur yang dianggap normal kini menjadi ancaman yang bisa mematikan kepekaan batin manusia.
Beliau kemudian memperkuat argumen ini dengan merujuk pada pesan dalam Al-Qur’an, Surat At-Takatsur ayat 1-2, yang memperingatkan bahwa bermegah-megahan dalam harta dan urusan dunia seringkali melalaikan manusia hingga mereka masuk ke dalam kubur.
Sebagai guru yang disiplin, beliau mengajak masyarakat untuk memiliki “kedisiplinan batin” dalam berhenti sejenak. Menurutnya, ketika seluruh waktu habis hanya untuk bertahan hidup dan mengejar sukses menurut standar sistem, manusia kehilangan momen untuk menatap dirinya sendiri.
“Apakah kita benar-benar bahagia, atau hanya terdistraksi oleh kesibukan yang tak ada habisnya?”. Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini, menurut pandangan beliau, adalah “penghancur” belenggu sistem yang menjajah jiwa manusia.
KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan agar umat tidak menjadi “roda gigi dalam mesin raksasa” yang kehilangan arah. Beliau mendorong agar setiap individu melakukan muhasabah (evaluasi diri) sebagaimana pesan dalam Surat Al-Hasyr ayat 18, agar setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Pesan ini menjadi pengingat bagi masyarakat yang kian sibuk: bahwa bekerja adalah sarana untuk hidup, namun hidup itu sendiri memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan materi.
(G.Nas)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar