Krisis TPA Sarimukti Mengintai, Pemkot Cimahi Gencarkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah Lewat Program ISWMP
- account_circle Pom py
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

Krisis TPA Sarimukti Mengintai, Pemkot Cimahi Gencarkan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah Lewat Program ISWMP
CIMAHI, RI.– Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi berkejaran dengan waktu untuk mengantisipasi kritisnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Sebagai langkah konkret, Pemkot Cimahi resmi menggalakkan strategi pemilahan sampah berbasis sumber (source-based movement) demi memangkas volume sampah yang dibuang setiap harinya. 
Komitmen ini diwujudkan melalui Pelatihan Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah skala besar di bawah payung program Integrated Solid Waste Management Project (ISWMP) yang digelar di Cimahi Techno Park, Selasa (27/10/2026). Dalam acara tersebut, Pemkot Cimahi juga menyerahkan bantuan tempat sampah terpilah secara simbolis kepada warga.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, mengungkapkan bahwa paradigma masyarakat yang menganggap urusan sampah selesai setelah dibuang ke tong sampah harus segera diubah. Saat ini, Kota Cimahi masih membuang sekitar 95 hingga 100 ton sampah per hari ke TPA Sarimukti. Padahal, TPA tersebut diproyeksikan akan penuh total pada periode Oktober hingga Desember 2026 ini.
“Kita hadir untuk mengubah cara pandang. Pengelolaan sampah tidak boleh lagi sekadar kumpul-angkut-buang, melainkan harus dikurangi tepat dari asalnya, mulai dari rumah tangga, sekolah, hingga kawasan usaha,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Cimahi mengoptimalkan operasional TPST Sentiong yang merupakan buah kolaborasi program ISWMP bersama Bank Dunia, Kementerian PU, dan Kemendagri. Berkat konsistensi ini, Cimahi yang merupakan satu dari 15 daerah penerima ISWMP di Indonesia, berhasil mendapatkan perpanjangan program hingga tahun 2027 serta bantuan armada operasional baru.
“Kita mendapatkan perhatian khusus dari pusat. Secara bertahap akan datang bantuan berupa 34 unit motor roda tiga (Tosa), 67 unit mobil pickup, serta 5 unit mobil kompaktor,” tambahnya.
Langkah Cimahi ini mendapat apresiasi tinggi dari Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah II Kemendagri, Ir. Suprayitno, M.A. Ia memuji keberanian Kota Cimahi yang sudah berhasil memisahkan peran operator dan regulator dalam pengelolaan sampah—sebuah langkah yang belum banyak diterapkan oleh kota-kota lain di Indonesia.
Melalui pelatihan ini, sebanyak 150 peserta dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan di tingkat RT dan RW. Mereka diharapkan mampu mengedukasi warga sekitar agar transformasi pengelolaan sampah mandiri berjalan masif, demi mewujudkan Kota Cimahi yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. R. Harry KP.
- Penulis: Pom py




Saat ini belum ada komentar