LSM GMBI Wilter Jatim Gelar Ruwatan Agung Nuswantoro di Pasuruan: Merajut Kebhinekaan Lewat Harmoni Budaya & Kepedulian Sosial
- account_circle Radar Indonesia
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- print Cetak

LSM GMBI Wilter Jatim Gelar Ruwatan Agung Nuswantoro di Pasuruan: Merajut Kebhinekaan Lewat Harmoni Budaya & Kepedulian Sosial
PASURUAN, RI – Semangat melestarikan warisan budaya Nusantara sekaligus memperkuat persatuan dan nilai-nilai kebangsaan kembali digaungkan keluarga besar LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Wilayah Teritorial Jawa Timur (Wilter Jatim). Melalui kegiatan bertajuk “Ruwatan Agung Nuswantoro, Pagelaran Seni & Kirab Budaya”, organisasi ini menghadirkan perpaduan megah antara pelestarian budaya, syukur kemerdekaan, dan aksi kepedulian sosial di kawasan wisata alam Air Terjun Putuk Truno, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 21–23 Agustus 2026, dengan mengusung tema “Merajut Kebhinekaan dalam Harmoni Budaya”. Agenda ini sekaligus menjadi bagian dari momentum syukur menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadi ruang silaturahmi yang hangat bagi keluarga besar GMBI, seniman, budayawan, tokoh agama, hingga masyarakat luas.
Kawasan Air Terjun Putuk Truno dipilih bukan tanpa alasan. Terletak di kaki gagah Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, lokasi ini menyuguhkan keindahan alam yang asri sekaligus menyimpan nilai budaya serta kearifan lokal yang mendalam menjadi latar sempurna untuk menyelenggarakan kegiatan yang sarat makna ini.
Pagelaran Seni & Puncak Ruwatan Agung
Rangkaian acara dipenuhi dengan beragam pertunjukan kesenian tradisional Nusantara yang memukau, antara lain: bantengan, jaranan, reog Ponorogo, karawitan, musik keroncong, campursari, hingga pertunjukan wayang kulit. Setiap penampilan menjadi bukti kekayaan seni budaya bangsa yang patut dijaga dan diwariskan.
Puncak kegiatan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, diawali dengan prosesi sakral Ruwatan Agung Nuswantoro, dilanjutkan dengan Kirab Budaya yang melibatkan ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kirab ini menjadi simbol nyata bahwa keberagaman daerah, latar belakang, dan ekspresi budaya dapat berjalan beriringan dalam satu barisan persatuan.
Doa Lintas Agama & Santunan Anak Yatim
Lebih dari sekadar panggung seni, kegiatan ini juga membawa pesan sosial dan kebangsaan yang kuat. Di sela-sela rangkaian acara, panitia menggelar doa lintas agama, pengajian kebangsaan, serta menyerahkan santunan kepada 99 anak yatim piatu dan kaum dhuafa sebagai wujud nyata kepedulian sosial GMBI terhadap sesama sejalan dengan nilai luhur kemerdekaan.
Pesan Persatuan & Komitmen Kebangsaan
Ketua GMBI Wilter Jatim menegaskan bahwa Ruwatan Agung Nuswantoro bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi momentum berharga untuk mengingat kembali3 pentingnya menjaga warisan budaya leluhur di tengah arus perkembangan zaman.
“Dengan budaya kita bersatu, dengan kebhinekaan kita berkarya. Dengan semangat bela negara, kita wujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya menjadi pesan utama yang mengalir dalam seluruh kegiatan.
Pihaknya ingin menunjukkan bahwa keberagaman budaya bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan justru menjadi kekuatan besar untuk membangun persatuan. Perbedaan latar belakang, kesenian, maupun daerah asal dipertemukan dalam satu panggung kebudayaan di kawasan Putuk Truno indah, harmonis, dan penuh semangat persaudaraan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan semangat nasionalisme, kepedulian sosial, dan penguatan persaudaraan antarelemen masyarakat. Dengan suasana alam Putuk Truno yang menyejukkan mata serta beragam pertunjukan seni Nusantara yang memukau, Ruwatan Agung Nuswantoro GMBI Wilter Jatim diharapkan mampu menjadi ruang bersama yang terus hidup untuk merawat kebudayaan, mempererat persaudaraan, dan# meneguhkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat kebangsaan pun menggema kuat di akhir kegiatan: GMBI Sampai Mati, NKRI Harga Mati. Sekali Melangkah ke Depan, Pantang untuk Mundur. (Rdwn)
- Penulis: Radar Indonesia




Saat ini belum ada komentar