Mengenang Almarhum Bapak Suratman: Jejak Pengabdian, Spiritual, dan Kehangatan yang Dirindukan
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 31 menit yang lalu
- visibility 5
- print Cetak

BOJONEGORO, RI – Perjalanan hidup seorang manusia seringkali terukir bukan hanya dari apa yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar jejak kebaikan dan ketulusan yang ia tinggalkan bagi sesama.
Begitulah lembaran kehidupan almarhum Bapak Suratman, seorang figur penuh warna yang lahir di Bojonegoro pada tahun 1952 dan berpulang menghadap Sang Khalik di Surabaya pada 27 April 2013, sebelum akhirnya jenazah beliau dipulangkan dan dimakamkan di Desa Tanjung, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Lahir di Bojonegoro pada tahun 1952, almarhum melalui dinamika zaman dengan menempa diri menjadi pribadi yang tangguh dan berjiwa sosial tinggi. Jauh sebelum mengarungi luasnya liku-liku kehidupan bermasyarakat, almarhum sempat mengenyam pendidikan pesantren.
Semasa hidupnya, beliau pernah bercerita tentang pengalamannya mondok dan menimba ilmu di salah satu pesantren di daerah Tuban, sebuah fase awal yang membentuk fondasi keagamaan dan keteguhan karakternya.
Tidak berhenti di situ, jiwa pencari spiritual almarhum terus terpelihara sepanjang hayatnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang akrab dengan para ulama, sering bersilaturahmi (sowan) ke berbagai kiai terkemuka di Jawa Timur yang begitu dihormatinya—yang tentu tidak bisa disebutkan satu per satu.
Salah satu ulama kharismatik yang juga menjadi tempat beliau bersowan adalah KH Fatchurrohman di Gresik, di mana dari beliau almarhum senantiasa mendapatkan petuah berharga untuk selalu bersabar dan bertabah hati dalam menghadapi segala bentuk takdir Allah SWT.
Kedalaman batin almarhum juga semakin matang ketika beliau menjadi salah satu santri dari ulama kharismatik asal Kediri, K.H. Hamim Tohari Djazuli, atau yang lebih dikenal luas sebagai Gus Miek. Didikan dari seorang wali jadzab tersebut membentuk kepribadian almarhum menjadi sosok yang tawadu, peka terhadap penderitaan sesama, serta memiliki pandangan batin yang luas.
Dari sinilah lahir kearifan lokal yang kerap beliau ajarkan, termasuk filosofi hidup pitukon—bahwa segala sesuatu di dunia ini harus ditebus dengan ikhtiar, kerja keras, atau tirakat yang tulus.
Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat, perjalanan hidup almarhum tidak luput dari dinamika dan ujian. Keinginan mendalam yang didorong oleh fitrah manusia—yakni kerinduan yang begitu besar untuk dikaruniai seorang anak perempuan dalam garis keturunannya—membawa beliau pada sebuah keputusan besar dalam rumah tangganya.
Di sinilah ujian sosial kerap hadir. Keputusan personal tersebut terkadang disalahartikan oleh segelintir oknum keluarga hingga memicu stigma dan keretakan pandangan di lingkaran kerabat dekat.
Namun, bagi mereka yang melihat dengan mata hati dan kejernihan pikiran, keputusan tersebut merupakan wujud nyata dari gejolak batin seorang manusia biasa yang memperjuangkan sebuah harapan, yang sama sekali tidak menghapus luasnya rekam jejak kebaikan sosial yang telah beliau berikan kepada masyarakat luas.
Waktu terus bergulir, dan sejak kepulangan beliau di Surabaya pada 27 April 2013 hingga peristirahatan terakhirnya di Desa Tanjung, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro, kenangan tentang almarhum Bapak Suratman tidak pernah pudar dari ingatan orang-orang yang mengenalnya secara objektif.
Bagi teman-teman dekat yang sejalan, para tetangga yang pernah merasakan kepedulian sosialnya, serta keluarga besar yang berpikiran positif, kepergian beliau menyisakan rasa kehilangan yang mendalam.
Bukan hanya karena kedermawanan dan jiwa sosialnya yang tinggi, melainkan karena sosok humorisnya yang begitu khas. Almarhum adalah pribadi yang selalu tahu bagaimana cara mencairkan suasana, menebar senyum, dan menghadirkan tawa di tengah kepenatan orang lain.
Kini, raga telah kembali beristirahat di tanah kelahiran Bojonegoro, namun warisan petuah hidup, gelak tawa kehangatannya, serta ketulusan amalnya akan terus hidup abadi dalam ingatan mereka yang mencintai dan mengenalnya dengan tulus.
(Ns/Red/RI)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar