Saat Truk Besar Menantang Aturan, Petugas Lalu Lintas Probolinggo Pilih Berdiri Tegak di Jalur Protokol
- account_circle Pom py
- calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
- visibility 27
- print Cetak

Saat Truk Besar Menantang Aturan, Petugas Lalu Lintas Probolinggo Pilih Berdiri Tegak di Jalur Protokol
PROBOLINGGO,RI-
Malam belum sepenuhnya lengang ketika deru mesin truk besar kembali memecah ketenangan jalur protokol Kota Probolinggo. Jalan yang seharusnya steril dari kendaraan berat itu kembali “diuji” oleh sopir yang memilih jalan pintas. Namun kali ini, mereka tidak melaju sendirian—petugas sudah lebih dulu menunggu.
Tim gabungan dari Dinas Perhubungan Kota Probolinggo dan Satlantas Polres Probolinggo Kota menggelar penertiban intensif terhadap truk-truk yang nekat menerobos jalur protokol. Operasi digelar di sejumlah titik rawan, termasuk ruas jalan penghubung Pangger–Jalan Pahlawan hingga kawasan Jalan Soekarno-Hatta.
Penertiban ini bukan tanpa alasan. Jalur protokol dirancang untuk kendaraan ringan dan aktivitas masyarakat perkotaan. Saat truk besar memaksa masuk, risiko kecelakaan meningkat, struktur jalan cepat rusak, dan pengguna jalan lain menjadi korban ketidakdisiplinan.
Kanit Turjawali Satlantas Polres Probolinggo Kota, Iptu Tohari, menegaskan bahwa operasi tersebut bukan sekadar razia rutin. “Kami ingin menghentikan kebiasaan lama yang dianggap wajar. Jalur protokol bukan jalur alternatif untuk kendaraan berat,” ujarnya tegas di sela-sela kegiatan.
Dalam operasi malam itu, petugas menjaring 37 kendaraan besar yang melanggar. Sejumlah sopir harus menyerahkan STNK dan SIM, sementara satu truk asal luar daerah terpaksa diamankan karena tidak mampu menunjukkan kelengkapan dokumen kendaraan.
Menariknya, pendekatan yang dilakukan petugas tidak melulu keras. Beberapa sopir diajak berdialog langsung di lokasi. Mereka diberi pemahaman soal dampak sosial dan keselamatan akibat pelanggaran jalur. Bagi petugas, penegakan hukum tanpa kesadaran hanya akan mengulang masalah yang sama.
“Kami bisa tilang hari ini, tapi kalau besok kejadian lagi, berarti ada yang salah. Yang kami kejar adalah efek jera dan kesadaran,” tambah Iptu Tohari.
Dengan jumlah personel terbatas—sekitar delapan anggota di lapangan—tim gabungan tetap berupaya maksimal. Mereka berharap ke depan ada penambahan personel dan dukungan kebijakan agar jalur protokol benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.
Penertiban ini sekaligus menjadi pesan terbuka: jalan kota bukan milik yang paling besar atau paling berani melanggar. Ketertiban lalu lintas adalah soal tanggung jawab bersama, dan malam itu, Probolinggo memilih berdiri di pihak aturan.(suh)
- Penulis: Pom py

Saat ini belum ada komentar