Ludruk Budi Wijaya menjadi puncak acara sedekah Bumi Desa Pundutterate Benjeng Gresik
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
- visibility 134
- print Cetak

GRESIK, RI – Desa Pundutterate, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, kembali menggelar sedekah Bumi pada Rabu, 13 Agustus, sebagai bentuk syukur atas berkah hasil pertanian dan keselamatan hidup yang telah dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi sakral ini bukan sekadar ritual dan agenda tahunan, melainkan warisan budaya Jawa yang penuh makna spiritual dan sosial. Bagi masyarakat Desa Pundutterate, sedekah bumi merupakan momentum untuk lebih menumbuhkan kegotongroyongan tapi juga menjaga hubungan antara manusia, alam, dan leluhur yang telah membabat alas, membuka lahan, dan menanam nilai-nilai kehidupan.
Acara dimulai pukul 09:00 WIB dengan kirab tumpeng yang diarak dari dusun menuju Balai Desa Pundutterate. Tumpeng yang melambangkan pusat kesejahteraan dan keberkahan ini dibawa beramai ramai oleh masyarakat sekitar, diiringi gemulai tarian tradisional Jawa dan denting gamelan yang menyemarakkan suasana.
Peserta kirab mengenakan busana adat khas Jawa Timur seperti kebaya rancongan, baju mantenan, dan pakaian pesa’an, menampilkan kemegahan dan keanggunan budaya yang telah melewati zaman namun tetap membumi di hati masyarakat.
Ratusan warga tumpah ruah di balai desa untuk mengikuti rangkaian acara yang berlangsung hingga malam. Kepala Desa Pundutterate beserta perangkat desa turut hadir, memperkuat semangat kebersamaan antar warga.
Doa bersama dan pembacaan harapan keselamatan menjadi inti dari acara, sebelum kemudian dilanjutkan dengan santap tumpeng sebagai lambang syukur dan solidaritas.
Turut hadir pula dalam acara tersebut
- Nurul Fuad, Camat Benjeng
- Kapten Arh Kuntoko, Komandan Koramil 0817/10 Benjeng
- Iptu Alimin Tunggal, Kepala Kepolisian Benjeng
Dalam sambutannya, Kepala Desa Pundutterate, Muslik, SH menyampaikan bahwa sedekah bumi tidak hanya menjadi momen spiritual, tapi juga wujud nyata pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. “Tradisi ini mengajarkan kita pentingnya merawat alam, membangun kebersamaan, dan menjaga identitas budaya,” ujarnya.
Selain sebagai sarana silaturahmi antarwarga, saya berharap kegiatan ini memperkuat rasa kebersamaan, menjadikan Desa Punduttrate semakin maju, masyarakatnya sejahtera, dan melahirkan generasi tangguh yang tidak melupakan akar budaya,” tegasnya
Muslik SH juga menambahkan bahwa sedekah bumi adalah pengingat akan pentingnya rasa terima kasih kepada Sang Pencipta, sekaligus penghargaan bagi para pendahulu. “Kita hidup di atas tanah yang dahulu mereka perjuangkan. Tradisi ini adalah cara kita menjaga hubungan itu tetap hidup,” tuturnya.
Sebagai puncak perayaan, masyarakat disuguhkan pertunjukan Ludruk Budi Wijaya yang diselenggarakan di balai desa malam harinya. Lakon yang dibawakan bukan hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan moral tentang kebajikan, kepemimpinan, dan keselarasan hidup. Sorak gembira, tawa anak-anak, dan raut bangga para orang tua menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih menjadi denyut nadi kebudayaan Desa Pundut Terate.
Sedekah bumi di Desa Pundutterate menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu cita: syukur, penghormatan, dan pelestarian. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengguncang identitas, tradisi ini berdiri kokoh sebagai penjaga nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh waktu. (Rdwn )
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar