Cimahi Siaga Kekeringan: Semua Kelurahan Terancam Krisis Air Mulai Agustus 2026
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- print Cetak

CIMAHI, RI– Ancaman krisis air bersih membayangi seluruh wilayah Kota Cimahi menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026. Menanggapi proyeksi dari BMKG terkait fenomena El Nino ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mulai mematangkan strategi penanganan darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengungkapkan bahwa potensi kekeringan kali ini tersebar merata di seluruh kelurahan, dengan total 312 RW yang masuk dalam zona rawan. Berdasarkan data Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah Cimahi bagian selatan seperti Kelurahan Melong, Utama, dan Leuwigajah diprediksi akan mengalami dampak paling parah akibat penurunan drastis muka air tanah.
“Mayoritas warga di wilayah selatan mengandalkan sumur dan air PDAM. Saat kemarau, debit air sumur menyusut tajam karena konsumsinya juga harus berbagi dengan sektor industri setempat,” ujar Fithriandy, Rabu (3/6/2026).
Untuk mengantisipasi kelangkaan air, BPBD telah menyiapkan skema distribusi bantuan air bersih. Operasi pasokan air akan langsung digulirkan begitu ada laporan dari warga, bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi serta Perumda Tirta Raharja.
Selain krisis air, Pemkot Cimahi juga mewaspadai risiko kebakaran. BPBD memetakan wilayah Cipageran di utara dan Cireundeu di selatan sebagai kawasan rawan kebakaran lahan atau alang-alang.
Koordinasi intensif dengan Dinas Pemadam Kebakaran serta pemantauan cuaca berkala bersama BMKG terus dilakukan guna meminimalkan dampak bencana, meski kemarau tahun ini diprediksi berjalan lebih singkat, pungkasnya. R. Harry KP
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar