Membongkar Stigma Trah: Ketika Perjuangan Merintis Pesantren Direduksi Garis Keturunan
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- print Cetak

SAMPANG, RI — Di tengah mengakar kuatnya tradisi penghormatan terhadap garis keturunan (dzurriyah) di sebagian masyarakat Madura, muncul sebuah fenomena kultural yang patut direnungkan bersama.
Otoritas keagamaan yang semestinya diukur melalui kedalaman ilmu, ketekunan belajar, dan integritas moral, kerap kali masih dipersepsikan melalui silsilah keluarga.
Fenomena ini paling dirasakan oleh para pejuang pendidikan mandiri. Tidak sedikit individu yang merintis pesantren dari nol — berbekal ketekunan mondok bertahun-tahun dan keikhlasan berkorban — harus menghadapi tantangan berupa persepsi sosial di lapangan.
Di mana, masih ada pandangan di sebagian masyarakat yang cenderung mengedepankan faktor garis keturunan sebagai tolok ukur utama dalam menilai sebuah lembaga pendidikan baru.
Padahal, jika ditarik kembali pada akar sejarah peradaban Islam, keulamaan sejati tidak pernah semata-mata diwariskan melalui garis darah. Para imam mazhab, mujtahid, hingga ulama besar masa lalu banyak yang merintis jalannya dari bawah melalui mujahadah (kesungguhan) yang panjang, bukan karena keistimewaan nasab.
Pandangan yang mendikotomikan antara “ulama keturunan” dan “perintis mandiri” ini dinilai sejumlah pihak sebagai bentuk pergeseran esensi. Agama Islam memuliakan ilmu dan takwa sebagai tolok ukur kemuliaan, bukan sekadar simbol keturunan.
Ketika perjuangan membangun peradaban dan mencerdaskan umat dipandang dari faktor non-akademis, maka yang dirugikan bukan hanya si perintis, tetapi juga nalar kritis dan kemajuan pendidikan masyarakat itu sendiri.
Kendati demikian, jalan sunyi yang ditempuh para perintis pesantren mandiri ini tidak perlu surut oleh sekat-sekat sosial. Waktu, konsistensi ketulusan, kualitas keilmuan, serta kemanfaatan nyata di tengah umat adalah pembuktian paling otentik.
Sebab pada akhirnya, sejarah peradaban mencatat bahwa legitimasi yang lahir dari keringat perjuangan dan kedalaman ilmu akan selalu menemukan jalannya untuk dihormati secara bermartabat dan murni.
(Ns/Red/RI)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar