Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menjemput Hakikat dari Musholla Sunan Kalijogo: Epilog Pengabdian Kang Anas di Lampung Timur

  • account_circle Redaksi Pagi
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 52
  • print Cetak

LAMPUNG TIMUR, RI – Dakwah, dalam maknanya yang terdalam, bukanlah sekadar menyampaikan kata-kata di atas mimbar. Ia adalah napas yang dihembuskan melalui ketundukan seorang murid di hadapan gurunya, serta ketulusan hati dalam merawat amanah yang telah digariskan oleh para pendahulu. Inilah sebuah kisah tentang Ahmad Nasruddin — sosok yang lebih akrab disapa Kang Anas — sebuah perjalanan spiritual yang menguji batin, memupuk adab, dan melukiskan jejak pengabdian yang tak lekang oleh waktu di Desa Bauh Gunungsari, Lampung Timur.

Perjalanan Kang Anas ke tanah perantauan bukanlah sebuah kebetulan yang hadir begitu saja. Ia adalah rangkaian dari sebuah skenario langit yang dibentuk oleh tarikan batin dan ketaatan. Sebelum langkah itu benar-benar menginjakkan kaki di tanah Sumatera pada tahun 2007, ada sebuah drama ketawaduan yang sangat menyentuh.

Saat perintah pertama dan kedua datang dari gurunya yang mulia, KH Fatchurrohman dari Gunung Petukangan, Gresik, Kang Anas memilih untuk menepi. Ia merasa dirinya masih sekecil butiran debu, merasa belum cukup menimba ilmu, dan merasa belum pantas memikul beban risalah yang begitu agung. Karena penolakannya, amanah tersebut sempat diemban oleh Kang Minto. Sementara itu, Kang Anas memilih jalan sunyi; ia melakukan tirakat selama lima tahun di Gunung Petukangan. Di sana, di antara denting tasbih dan heningnya malam, ia ditempa, dibersihkan hatinya, dan dipersiapkan untuk masa depan yang belum ia ketahui.

Tatkala perintah ketiga tiba, Kang Anas sadar bahwa melawan takdir guru adalah menjauhkan diri dari berkah. Ia pun berangkat, menggantikan posisi Kang Minto di tengah gejolak masyarakat yang kala itu tengah terpecah oleh pengaruh ajaran Mbah Lan. Dengan restu guru yang menjadi kompas jiwanya, Kang Anas datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penyejuk. Ia hadir untuk membenahi dan merajut kembali silsilah keilmuan yang telah diletakkan pondasinya oleh sesepuh agung, Romo KH. Ahmad Rifa’i dari Benjeng, Kedungsekar Lor, Gresik.

Di Desa Bauh Gunungsari, Kang Anas menemukan sebuah keluarga besar. Para santri warisan Romo KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok-sosok yang luar biasa tangguh. Mereka adalah jiwa-jiwa yang kompak, yang dalam segala kekurangan ekonomi, mampu menunjukkan kemandirian luar biasa — bahu-membahu mendanai kegiatan demi tegaknya syiar. Di sana pula, ia menemukan teladan hidup dalam diri Pak Agus, sang ayah angkat yang tetap kokoh meski ujian rumah tangga dan badai ekonomi menghantamnya. Ada pula Pak Win, yang dengan keikhlasan tanpa batas menjadi tiang penopang dana, serta tim lainnya yang ikhlas berkorban demi marwah dakwah.

Di bawah naungan Musholla Sunan Kalijaga,mampu menghidupkan kembali “napas” spiritual yang sempat meredup. Ia membangun peradaban kecil melalui tradisi yang menyentuh kalbu: lomba malam takbiran dan lomba sholawat. Hingga hari ini, jejak tersebut tetap hidup, menjadi tradisi luhur yang dijaga oleh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan yang pernah hadir.

Namun, pengembaraan seorang pencari ilmu adalah sungai yang terus mengalir menuju samudera. Merasa bahwa dahaga keilmuannya masih perlu disiram oleh hikmah yang lebih luas, Kang Anas dengan penuh adab kembali memohon izin kepada gurunya untuk undur diri sementara waktu. Ia ingin terus berkelana, mencari hakikat yang terserak di berbagai penjuru. Sang guru, yang memahami kedalaman nurani muridnya, memberikan restu yang melegakan.

Kini, meski fisik Kang Anas telah berpindah tempat, semangat itu tidaklah padam. Kegiatan istighotsah dan pengajian tetap berdenyut di Bauh Gunungsari, yang diteruskan dengan penuh kesederhanaan oleh para ustadz setempat.

“Bagi saya,” kenang Kang Anas dengan pandangan yang menerawang, “masa-masa di Bauh Gunungsari bukanlah tentang siapa yang memimpin, melainkan tentang bagaimana kita belajar bahwa dakwah adalah kerja cinta. Tentang kekompakan para santri, keteguhan hati Pak Agus dan Pak Win di tengah badai, dan tentang betapa mulianya menjaga sanad ilmu yang diwariskan guru.”

Kini, seluruh kenangan telahmenjadi saksi bisu, sebuah monumen literasi tentang adab seorang murid, tentang beratnya tirakat, dan tentang keberanian untuk melangkah dengan kerendahan hati. Kisah Kang Anas di tahun 2007 ini adalah pengingat abadi bagi siapa pun yang berjalan di jalan ini: bahwa menjadi pembimbing spiritual bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan panjang untuk terus mencari ridho Allah SWT yang tak bertepi.

( Red/ RI )

  • Penulis: Redaksi Pagi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lobang Menganga Didepan SMP Gembala Menanti Korban

    Lobang Menganga Didepan SMP Gembala Menanti Korban

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    PONTIANAK,RI- Hingga kini belum ada tanda – tanda dari dinas PU Kota Pontianak untuk memperbaiki jalan yang diketahui ada lobang yang persisnya di persimpanganSMP Gembala baik berbatasan dengan Jalan Ayani.depan.Mapolda Kalbar. Lobang tersebut lumayan dalam ,jika salah sedikit pengguna jalan raya salah mengendarai motor roda duanya tentu akan fatal. Pengguna jalan berharap kepada dinas PU […]

  • Perhutani KPH Mojokerto Laksanakan Wisuda GYM Angkatan II Tahun 2024

    Perhutani KPH Mojokerto Laksanakan Wisuda GYM Angkatan II Tahun 2024

    • calendar_month Kamis, 3 Okt 2024
    • account_circle Pom py
    • visibility 327
    • 0Komentar

    MOJOKERTO, RI (3/10/2024) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto berperan sebagai salah satu “Simpul Belajar” yang melibatkan generasi muda perwakilan 14 sekolah menengah di Kabupaten dan Kota Mojokerto mengikuti acara wisuda bersama dan puncak Youth Conservation Fest 2024 yang dilaksanakan secara daring bersama peserta Green Youth Movement (GYM) 2024, dari tuang rapat kantor […]

  • JAM-Pidum Menyetujui 4 Restorative Justice,Salah Satunya Perkara Penganiayaan di Timor Tengah Utara

    JAM-Pidum Menyetujui 4 Restorative Justice,Salah Satunya Perkara Penganiayaan di Timor Tengah Utara

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    JAKARTA, RI – Jaksa Agung RI melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana memimpin ekspose virtual dalam rangka menyetujui 4 (empat) permohonan penyelesaian perkara berdasarkan mekanisme Restorative Justice (keadilan restoratif) pada Senin, 4 Agustus 2025. Salah satu perkara yang disetujui penyelesaiannya melalui mekanisme keadilan restoratif adalah terhadap Tersangka Ani […]

  • KLHK Segel Lahan Terbakar di Kubu Raya, Polisi: Ini Bentuk Penegakan Hukum Tegas

    KLHK Segel Lahan Terbakar di Kubu Raya, Polisi: Ini Bentuk Penegakan Hukum Tegas

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Pom py
    • visibility 304
    • 0Komentar

    KLHK Segel.segel lahan terbakar di kubu raya KUBU RAYA, RI – Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia melakukan peninjauan sekaligus penyegelan terhadap lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Afdeling 1 PT. Putra Lirik Domas (PLD), perbatasan Blok A.25 dengan lahan milik warga Dusun Suka Damai, Desa Pematang […]

  • Ki Ngabehi Soerodiwirjo: Pendiri Persaudaraan Setia Hati

    Ki Ngabehi Soerodiwirjo: Pendiri Persaudaraan Setia Hati

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 297
    • 0Komentar

    SAMPANG, RI – Mengenal lebih jauh sejarah Ki Ngabehi Soerodiwirjo,pendiri Persaudaraan Setia Hati / SH. 1869: Kelahiran Ki Ngabehi Soerodiwirjo Ki Ngabehi Soerodiwirjo (nama kecilnya Masdan) lahir pada hari Sabtu Pahing. Beliau merupakan keturunan dari Bupati Gresik-Surabaya. Ayahnya bernama Ki Ngabehi Soeromiharjo sebagai Mantri Cacar Ngimbang (Lamongan) yang mempunyai 5 (lima) putera yaitu: Saudara laki-laki […]

  • Cegah Paham Radikal, Polresta Sidoarjo Gelar FGD Dihadiri Tim Div Humas Polri

    Cegah Paham Radikal, Polresta Sidoarjo Gelar FGD Dihadiri Tim Div Humas Polri

    • calendar_month Rabu, 10 Mar 2021
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 266
    • 0Komentar

    SIDOARJO – RI, Dalam rangka Pencegahan Penanggulangan Paham Radikal dan Terorisme, Polresta Sidoarjo, menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Gedung Serba Guna, Sidoarjo, Selasa (9/3/21). FGD yang bertema “Terorisme Musuh Kita Bersama” diikuti oleh para Instansi terkait seperti, Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Kepala Kemenag Kabupaten Sidoarjo. Dengan Protokol Kesehatan yang ketat, FGD juga diikuti para Tokoh Agama […]

expand_less