Menuju Indonesia Emas, Wali Kota Cimahi Dorong Santri Kuasai Kecerdasan Buatan
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 8
- print Cetak

CIMAHI, RI– Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengajak para santri di wilayahnya untuk berani membuka diri terhadap perkembangan teknologi digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi generasi pemecah masalah di tengah masyarakat dengan tetap memegang teguh akhlakul karimah.
Pesan bernada futuristik tersebut digaungkan Ngatiyana saat membuka upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kota Cimahi yang berlangsung di Alun-Alun Kota Cimahi, Kamis (22/10/2026). Acara ini dihadiri oleh ratusan santri, ulama, kiai, serta para pimpinan pondok pesantren se-Kota Cimahi.
Tahun ini, HSN mengusung tema besar
“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Ngatiyana menilai, tema ini menjadi pembuktian bahwa santri bukan sekadar penjaga benteng nilai keagamaan, melainkan pilar penting yang ikut menentukan arah masa depan bangsa.
Dalam pidatonya, Ngatiyana mengingatkan kembali bahwa Hari Santri yang berakar dari semangat Resolusi Jihad adalah bukti nyata bagaimana kecintaan pada agama dan tanah air bisa berjalan beriringan. Namun di era modern, perjuangan santri bertransformasi menjadi penguasaan teknologi dan sains tanpa kehilangan jati diri.
“Pemerintah Kota Cimahi menyadari bahwa membangun kota tidak cukup hanya dengan infrastruktur fisik seperti jalan dan gedung. Kami juga fokus membangun manusianya—menguatkan iman, memuliakan akhlak, memperluas ilmu, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk berkembang,” ujar Ngatiyana.
Ia secara khusus menyoroti maraknya pemanfaatan AI saat ini. Ngatiyana meminta santri tidak phobia atau takut terhadap AI. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dijinakkan untuk mempermudah riset, belajar bahasa, mencari informasi, hingga mengembangkan gagasan produktif. Kendati demikian, kebijaksanaan dan konfirmasi kebenaran informasi (tabayyun) tetap menjadi filter utama.
“Teknologi bisa membantu mempercepat pencarian informasi, namun tidak akan pernah bisa menggantikan hikmah, adab, dan kedalaman ilmu yang diperoleh dari bimbingan langsung para guru dan ulama,” tegasnya. Untuk urusan hukum agama, santri wajib tetap bersandar pada Al-Qur’an, hadis, serta kitab-kitab yang muktabar.
Di akhir sambutan, Ngatiyana menegaskan komitmen Pemkot Cimahi untuk terus memberikan perhatian penuh pada ekosistem pondok pesantren. Sinergi antara pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas diharapkan mampu melahirkan generasi santri Cimahi yang adaptif, berwawasan luas, namun tetap berakar pada tradisi keilmuan yang kuat, pungkasnya. R. Harry KP
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar