Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor, Kota Cimahi Luncurkan Panduan Kelola Sampah Tuntas di Wilayah
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 69
- print Cetak

Foto : Tengah Wali Kota Cimahi, Kanan Kadisdik Kota Cimahi dan Kiri Kadis LH Kota Cimahi.
CIMAHI,RI– Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ke-21 tahun 2026 dengan semangat kolaborasi di Kampung Adat Cireundeu, Sabtu (21/02/2026). Momentum ini menandai 21 tahun pasca-tragedi longsor sampah Leuwigajah sekaligus menjadi tonggak penguatan kesadaran kolektif menuju pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko, perwakilan kementerian terkait (KLH dan PU), Forkopimda, akademisi, serta sektor swasta. Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi mendalam atas keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
Wali Kota Cimahi, Letkol (Purn) Ngatiyana, S.A.P mengingatkan bahwa peristiwa kelam tahun 2005 harus menjadi pelajaran abadi. Ia menegaskan bahwa sampah bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan persoalan keselamatan nyawa.
“Tahun 2005 adalah bukti nyata bahwa kegagalan mengelola sampah berujung bencana. Ke depan, kita harus bergeser ke konsep Zero to TPA. Sampah tidak lagi dibuang, tapi diselesaikan di sumbernya melalui pemilahan dari rumah,” tegas Ngatiyana.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pengurangan Sampah KLH/BPLH, Agus Rusly, memaparkan bahwa target nasional dalam RPJMN 2025–2029 adalah 100 persen sampah terkelola pada tahun 2029. Ia menyoroti bahwa 50 persen sampah rumah tangga adalah organik yang seharusnya selesai di tingkat lokal melalui pengomposan atau budidaya maggot.
“Jika sampah organik selesai di rumah, beban sistem kota akan turun drastis. Sisa sampah anorganik tinggal disalurkan ke ekosistem yang sudah ada seperti Bank Sampah, TPS 3R, dan TPST,” jelas Agus.
Inovasi dan Transformasi Kawasan
Dalam laporannya, Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menyampaikan bahwa HPSN 2026 merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Indonesia Asri. Sebagai langkah konkret, Pemkot Cimahi meresmikan TPST Utama dan meluncurkan Buku Pedoman Kewilayahan Pengelolaan Sampah Terpadu Tuntas di Tempat.
“Buku ini menjadi panduan teknis bagi Camat dan Lurah, seiring dengan pelimpahan sebagian kewenangan pengelolaan sampah ke tingkat kewilayahan agar penanganan lebih cepat dan tuntas,” ujar Chanifah.
Selain itu, dilakukan aksi simbolis pengambilan sampel air di Seke Cilimus, mata air yang sempat tertimbun longsor dua dekade lalu dan kini muncul kembali. Pemkot Cimahi juga memperkenalkan rencana penataan kawasan bekas tumpukan sampah di Cireundeu untuk bertransformasi menjadi hutan bambu dan monumen peringatan lingkungan.
Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan dengan peluncuran animasi edukasi digital, buku Serial Coaching untuk sekolah, hingga program sedekah sampah berbasis sekolah saat bulan Ramadan.
Melalui HPSN 2026, Kota Cimahi menegaskan komitmennya: pengelolaan sampah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang membangun peradaban baru yang lebih bersih, sehat, dan bertanggung jawab demi Indonesia yang asri. R. Harry KP.
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar