Breaking News
light_mode
Trending Tags

Wakapolri Bicara Bagaimana Melindungi Dunia Pendidikan Dari Paham Radikalisme

  • account_circle Radar Indonesia
  • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
  • visibility 247
  • print Cetak

JAKARTA – RI, Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mengatakan, memasuki tahun ajaran baru, dunia pendidikan, khususnya tingkat Perguruan Tinggi harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap paham dan gerakan kekerasan. Terutama yang ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dengan legitimasi yang didasarkan pada pemahaman agama yang salah. Paham dan gerakan tersebut adalah Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme.

Menurutnya, berdasarkan catatan Global Terrorism Index 2022 menyebut bahwa sepanjang tahun 2021, terdapat 5.226 aksi terorisme di seluruh dunia. Korban meninggal dunia yang berjatuhan akibat aksi tersebut mencapai 7.142 jiwa.

“Tidak sedikit dari jumlah tersebut adalah anak-anak, perempuan, dan golongan usia renta; hal ini menunjukkan bahwa terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, bukan gerakan keagamaan,” kata Gatot dalam keterangan tertulisnya, Jum’at (12/8/2022).

Di Indonesia, kata Gatot, data yang dimiliki oleh Densus 88 terkait aksi terorisme dan penangkapan terhadap pelakunya juga menunjukkan angka yang tinggi. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari penyebaran paham dan gerakan radikalisme dan intoleransi yang utamanya, menyasar kalangan anak-anak muda, termasuk dengan masuk ke wilayah pendidikan.

“Dalam lima tahun terakhir ini saja, dunia pendidikan kita, khususnya kampus, masih menjadi incaran utama kelompok radikal-terorisme,” katanya.

Jenderal bintang tiga ini menjelaskan, proses infiltrasi paham dan gerakan radikal dan ekstremisme masuk dengan berbagai cara, mulai dari menyusup di kegiatan-kegiatan keagamaan (CISForm, 2018), masjid-masjid kampus (INFID, 2018), dan persebaran buku-buku (PPIM, 2018).

Pola penyebarannya pun tidak lagi dilakukan hanya melalui medium dakwah dan forum-forum halaqah, tetapi sudah merambah ke media sosial (cyber space) dan jalur-jalur pertemanan.

“Hasilnya, sebagaimana dilaporkan PPIM (2020), 24,89% mahasiswa Indonesia terindikasi memiliki sikap intoleran. Dari sumber lain, Alvara Research (2020) melaporkan bahwa 23,4% mahasiswa dan pelajar Indonesia mengaku anti-Pancasila dan malah pro-khilafah. Data-data ini tentu mengkhawatirkan, tetapi bukan berarti tidak bisa kita kalahkan,” katanya.

Sel Tidur

Sebagai pintu terakhir sebelum menggumpal menjadi Terorisme, Radikalisme adalah sikap atau mental yang menyetujui dan mendukung penggunaan aksi-aksi kekerasan untuk mencapai suatu tujuan.

Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. secara lebih spesifik menjelaskan bahwa seseorang dapat dicurigai terjangkit Radikalisme apabila menunjukkan bentuk-bentuk aksi seperti mengapresiasi aksi Terorisme, tidak mengecam aksi Terorisme, menunjukkan dukungan melalui unggahan di Media Sosial, mencurigai aksi teror sebagai rekayasa, dan sebagainya.

“Jika sikap dan pemahaman ini tidak segera diintervensi, sangat mungkin seseorang yang sudah radikal menjadi teroris. Yang bersangkutan bukan lagi mendukung dan menyetujui aksi-aksi kekerasan, tetapi sudah terlibat langsung dengan menjadi pelaku atau eksekutor aksi-aksi kekerasan tersebut,” ujar Gatot.

Hal yang harus dipahami bersama, lanjut Gatot, radikalisme terjadi secara bertahap dan dengan kadar yang berbeda-beda pula. Umumnya, Radikalisme bermula dari Intoleransi, yakni sebuah pemahaman dan sikap yang menolak keberadaan kelompok lain; risih dengan perbedaan.

“Itu sebabnya, tidak sedikit pakar dan pengamat yang menyebut radikalisme ibarat sel tidur yang sewaktu-waktu dapat tergerak untuk melakukan aksi-aksi anarkis,” katanya.

Lima Sebab

Ia pun memaparkan ada lima sebab kenapa anak-anak muda tertarik pada narasi atau bahkan gerakan intoleran dan radikal. Pertama, mereka sedang mencari identitas diri. Studi yang dilakukan oleh The United States Institute of Peace pada 2010 menunjukkan bahwa 2.032 militan asing jaringan Alqaeda berasal dari kalangan mahasiswa dan pelajar; mereka adalah orang-orang yang sedang mengembara untuk menemukan jati dirinya.

Kedua, mereka membutuhkan perasaan kebersamaan. Kelompok teroris pandai memanfaatkan para remaja yang sedang resah terhadap kondisi emosionalnya. Mereka ingin mencari kebersamaan yang kadang tidak mereka dapatkan dari keluarganya.

Ketiga, mereka ingin memperbaiki apa yang dianggap mencederai rasa keadilan. Para remaja ini memiliki semangat yang menggebu-gebu dan idealisme yang tinggi untuk melakukan perubahan, hal inilah yang juga dimanfaatkan oleh kelompok teroris.

Keempat, mereka sedang membangun citra diri. Kelompok remaja sangat ingin terlihat menonjol atau eksis, karenanya mereka cenderung tidak segan untuk melakukan berbagai cara untuk tampil impresif, termasuk di antaranya adalah dengan menjadi bagian dari kelompok dan gerakan ekstremis.

Kelima, mereka memiliki akses yang luas untuk berinteraksi dengan siapa pun di dunia maya, termasuk dengan kelompok radikal. Persinggungan di dunia maya inilah yang kerap menjadi permulaan bagi kalangan muda untuk bergabung dengan kelompok teroris.

“Khusus pada poin terakhir, banyak kalangan yang menyebut media sosial telah membuat kalangan anak-anak muda semakin rentan, terutama –sebagaimana dikemukakan dalam temuan Wahid Foundation (2017)—karena kalangan muda lebih senang belajar agama dari media sosial, dengan ustaz/ah yang belum tentu terjamin kualitas keilmuan dan akhlaknya,” katanya.

Melawan dengan Kebersamaan

Gatot mengatakan, penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme di kalangan perguruan tinggi harus diprioritaskan, selain karena hal ini merupakan bagian dari tiga dosa besar di dunia pendidikan yang sedang gencar dihilangkan oleh pemerintah, radikalisme dan terorisme juga berpotensi besar menghancurkan bukan saja negara, tetapi kemanusiaan dan peradaban kita.

Untuk itu, Polri serius membangun kerja sama dengan universitas-universitas di Indonesia untuk melawan segala bentuk ajaran dan gerakan kekerasan. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kesiapsiagaan nasional, masifikasi program kontra-ideologi, deradikalisasi, netralisasi media, serta netralisasi situasi.

“Pihak kampus pun harus lebih aktif menjadi, meminjam istilah Kadensus 88, kampus inklusi anti-intoleransi. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pertama, membuka lebih banyak ruang perjumpaan di dalam kampus; tak boleh ada organisasi mahasiswa yang bersifat eksklusif. Kampus juga harus tegas soal regulasi anti-radikalisme di internal masing-masing. Hal ini diwujudkan salah satunya dengan kesepakatan bersama untuk selalu patuh dan menjunjung tinggi empat komitmen dasar negara, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Kampus juga harus selalu memastikan materi pembelajaran mengandung pandangan keagamaan moderat dan bernuansa wawasan kebangsaan,” katanya.

“Hanya dengan komitmen dan kebersamaan, kita dapat bersama-sama mengalahkan paham dan gerakan kekerasan,” katanya mengakhiri. (mjb/tg red humas)

  • Penulis: Radar Indonesia

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua LSM AMPP Geram Lambannya Penetapan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi BOP Vaksinasi PMK

    Ketua LSM AMPP Geram Lambannya Penetapan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi BOP Vaksinasi PMK

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 101
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO,RI- Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP), Lutfi Hamid, menyuarakan kekecewaannya atas lambatnya proses hukum kasus dugaan korupsi Bantuan Operasional Penanganan (BOP) vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo. Menurut Lutfi, masyarakat telah lama menantikan kepastian hukum dalam kasus yang kini ditangani Kejaksaan Negeri Probolinggo tersebut. “Kami menilai […]

  • Padepokan Yayasan Tlaseh 87, Gelar Ruwatan Massal Dan Mangesti Suro 1956 Saka

    Padepokan Yayasan Tlaseh 87, Gelar Ruwatan Massal Dan Mangesti Suro 1956 Saka

    • calendar_month Sabtu, 20 Agt 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 400
    • 0Komentar

    MOJOKERTO – RI, Padepokan Yayasan Tlasih 87 Dusun Sumbertanggul Desa Sumbergirang Kecamatan Puri kabupaten Mojokerto gelar Ruwatan Massal dan Mangesti Suro 1956 Saka yang diikuti massa kurang lebih 1200 Personil, Sabtu (13/8/22). Dan perlu diketahui Ruwatan massal merupakan kegiatan rutin tahunan yang selalu dilaksanakan setiap bulan Suro, namun sempat berhenti dua tahun lantaran adanya Pandemi […]

  • Sosialisasi Pengolahan Makanan Sehat, Ning Ita Ingin UMKM Kota Mojokerto Naik Kelas

    Sosialisasi Pengolahan Makanan Sehat, Ning Ita Ingin UMKM Kota Mojokerto Naik Kelas

    • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
    • account_circle Pom py
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Foto Sosialisasi Pengolahan Makanan Sehat, Ning Ita Ingin UMKM Kota Mojokerto Naik Kelas. (Kom) Kota Mojokerto, RI – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari membuka kegiatan Sosialisasi Pengolahan Makanan Sehat bagi UMKM Mamin di Kelurahan Mentikan, Selasa (14/10). Tidak hanya memberikan pelatihan, pada kesempatan ini juga dibuka ruang dialog agar pelaku usaha bisa menyampaikan kebutuhan dan […]

  • Satgas TMMD lakukan Pengecoran Jembatan Penghubung

    Satgas TMMD lakukan Pengecoran Jembatan Penghubung

    • calendar_month Senin, 16 Mei 2022
    • account_circle Radar Indonesia
    • visibility 281
    • 0Komentar

    PASURUAN – RI, Pembangunan sasaran Fisik dalam Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 113 Kodim 0819/Pasuruan TA 2022 meliputi kegiatan fisik dan non fisik, yang dilaksanakan Prajurit TNI dari Kodim 0819/Pasuruan dengan membentuk Tim Satgas yang di pimpin langsung oleh Dandim 0819/Psuruan Letkol inf Nyarman, M. Tr. (Han). Sebelumnya telah dilaksanakan Koordinasi antara Kodim […]

  • Polres Probolinggo Kota Bekuk Residivis Kasus Curanmor di Rest Area Tongas

    Polres Probolinggo Kota Bekuk Residivis Kasus Curanmor di Rest Area Tongas

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO,RI- Acara minum miras di Rest Area Tongas, minggu (9/3) jam 23.00, menyisakan cerita duka bagi FNR, 24 tahun, warga Kel. Tisnonegaran. Pasalnya sepeda motor milik korban FNR digondol kabur oleh teman sendiri yaitu ARF dan MSR. Modusnya, setelah korban mabuk, terjadi kesalahpahaman dengan SGL, pemuda yang juga minum miras bersama di lokasi yang mengakibatkan […]

  • Hibah Ternak Jadi Motor Pemberdayaan, Abdul Mujib Tegaskan Reses Harus Berdampak Nyata Bagi Warga

    Hibah Ternak Jadi Motor Pemberdayaan, Abdul Mujib Tegaskan Reses Harus Berdampak Nyata Bagi Warga

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Pagi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    PROBOLINGGO,RI – Wakil Ketua DPRD Kota Probolinggo, Abdul Mujib dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), kembali turun langsung menyapa masyarakat dalam agenda Reses Masa Sidang II Tahun 2026. Bagi Mujib, reses bukan sekadar formalitas konstitusional, tetapi ruang dialog nyata antara rakyat dan wakilnya. Dalam pertemuan tersebut, isu hibah pengadaan ternak mencuat sebagai salah satu aspirasi […]

expand_less