I Gusti Nyoman Ida Gempol: Pahlawan Perlawanan Bali, Mahaguru Silat, dan Akarnya Persaudaraan Setia Hati
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
- visibility 130
- print Cetak

SAMPANG, RI – I Gusti Nyoman Ida Gempol adalah seorang tokoh perlawanan masyarakat Bali Utara terhadap kekuasaan kolonial Belanda di wilayah ini sejak tahun 1849. Beliau memimpin perlawanan bersenjata terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1858, yang kemudian ditanggapi serius oleh pemerintah kolonial dengan mengirimkan armada angkatan laut dan pasukan darat ke wilayah Bali Utara. Perlawanan ini tidak hanya menunjukkan keberanian dan keteguhan hati I Gusti Nyoman Ida Gempol, tetapi juga membangkitkan semangat perlawanan masyarakat Bali Utara.
Sumber berita ini diperoleh dari beberapa sumber, termasuk Wak Gembul, seorang pejalan yang dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah dan budaya. Wak Gembul, yang memilih untuk tidak mengungkapkan identitas aslinya, adalah seorang pejalan yang telah menghabiskan banyak waktu di berbagai tempat, termasuk di seberang pulau. Ia memiliki reputasi sebagai seorang yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah dan budaya, serta memiliki akses ke sumber-sumber yang tidak umum. Dengan demikian, berita ini dapat dipercaya dan akurat.
Perlawanan I Gusti Nyoman Ida Gempol tidak hanya berdampak pada pemerintah kolonial, tetapi juga membawa perubahan besar bagi masyarakat Bali Utara. Beliau berhasil membangkitkan kesadaran dan semangat perlawanan masyarakat Bali Utara, sehingga mereka dapat melawan kekuasaan kolonial dengan lebih gigih.
Meskipun perlawanan beliau berhasil ditumpas dan beliau ditangkap serta diasingkan ke Padang, Sumatera Barat, I Gusti Nyoman Ida Gempol tetap dihormati sebagai pahlawan perlawanan Bali. Di Padang, beliau dijuluki sebagai “Raja Bali” oleh penduduk lokal. Julukan ini tidak hanya menunjukkan rasa hormat penduduk lokal terhadap beliau, tetapi juga membuktikan bahwa beliau telah menjadi simbol perlawanan dan keberanian bagi masyarakat Bali.
Namun, yang menarik adalah peran I Gusti Nyoman Ida Gempol sebagai mahaguru dalam pembentukan perguruan silat Persaudaraan Setia Hati. Pada tahun 1888, beliau bertemu dengan Ki Ngabehi Surodiwiryo, seorang pesilat asal Jawa yang kemudian menjadi murid beliau. Ki Ngabehi Surodiwiryo kemudian menjadi peletak dasar ajaran silat Persaudaraan Setia Hati yang menekankan pada nilai kesetiaan, kejujuran, dan keberanian. Ajaran inilah yang kemudian berkembang dan melahirkan berbagai organisasi persaudaraan silat, seperti Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Winongo.
Oleh karena itu, I Gusti Nyoman Ida Gempol dianggap sebagai salah satu mahaguru terbentuknya Persaudaraan Setia Hati. Warisan beliau dalam bidang perlawanan dan silat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Beliau telah meninggalkan jejak yang tidak terlupakan dalam sejarah perlawanan dan silat Indonesia.
Ki Suro (Ki Ngabehi Surodiwiryo), yang merupakan tokoh sentral dalam sejarah Persaudaraan Setia Hati, juga memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan ajaran ini. Beliau adalah murid I Gusti Nyoman Ida Gempol yang kemudian menjadi peletak dasar ajaran Persaudaraan Setia Hati secara formal. Dengan demikian, Ki Suro telah menjadi bagian penting dalam sejarah awal Persaudaraan Setia Hati.
Persaudaraan Setia Hati merupakan pondasi ajaran silat yang kini diwarisi oleh banyak perguruan besar di Indonesia. Dengan ajaran yang kuat dan sejarah yang panjang, Persaudaraan Setia Hati telah menjadi simbol kekuatan dan kesetiaan, dan terus menginspirasi para anggotanya di berbagai organisasi turunannya.
Dengan demikian, I Gusti Nyoman Ida Gempol dan Ki Suro merupakan dua tokoh yang sangat penting dalam sejarah Persaudaraan Setia Hati. Mereka telah meninggalkan warisan yang tidak terlupakan dalam sejarah perlawanan dan silat Indonesia, dan terus menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi yang mewarisi ajaran Setia Hati.
(G.Nas/dari berbagai sumber)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar