Ikon Sampang Ternoda: Alun-Alun Trunojoyo Rusak Parah Pasca-Demo AnarkisSAMPANG, RI – Aksi unjuk rasa yang berlangsung di kawasan Alun-Alun Trunojoyo, ikon kebanggaan Kabupaten Sampang, dilaporkan berakhir ricuh dan anarkis. Dampak dari kericuhan tersebut kini terlihat jelas, menyisakan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas umum di sekitar alun-alun, mengubah pemandangan indah menjadi potret yang memprihatinkan.
Peristiwa ini segera menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan masyarakat dan pegiat sosial. Tindakan perusakan tersebut dipandang sebagai cara penyampaian aspirasi yang keliru, egois, dan gagal mencapai sasaran utamanya.
Para pengamat sangat menyayangkan eskalasi aksi yang berubah menjadi vandalistis atau bersifat merusak. Ditekankan bahwa praktik semacam ini, bagaimanapun alasan di baliknya, akan cenderung merugikan publik yang merupakan pengguna aktif dan utama dari fasilitas-fasilitas yang telah dibangun untuk kepentingan bersama.
Meskipun disadari bahwa unjuk rasa merupakan hak konstitusional masyarakat dan dapat menjadi bentuk kekecewaan publik terhadap kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan penundaan Pilkades dan minimnya ruang dialog, batasan kritis harus tetap dijaga.
”Saat unjuk rasa mulai bergeser ke perusakan fasilitas umum, pada titik itulah masyarakatlah yang justru paling dirugikan. Sebab, kepentingan fasilitas tersebut sejatinya ditujukan untuk melayani seluruh kalangan publik secara luas,” demikian pandangan salah satu masyarakat saat di temui.
Seruan Kedewasaan dan Ketertiban
Menyikapi insiden ini, kalangan aktivis senior menyatakan penghormatan tinggi terhadap kebebasan berpendapat. Namun, peringatan keras disampaikan agar setiap aksi dilakukan dengan tertib, damai, dan mematuhi koridor hukum. Kerusakan fasilitas publik ditekankan sebagai tindakan kontraproduktif yang secara langsung melukai kepentingan masyarakat luas.
Para tokoh juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak benar atau berita negatif yang berpotensi memicu kegaduhan, khususnya yang cepat menyebar di media sosial.
”Kebebasan berpendapat adalah hak, tapi mari kita laksanakan dengan bijak, tetap menjaga persatuan, dan menghindari segala tindakan yang dapat merusak ketertiban umum,” tegas mereka.
Kerugian Dirasakan Pedagang dan Warga Sekitar.
Dampak kerusakan dan anarkisme ini juga membawa kesedihan bagi warga yang sehari-hari bergantung pada aktivitas di sekitar Alun-Alun Trunojoyo. Salah seorang pedagang kaki lima (PKL) di area tersebut mengaku sangat bersedih melihat aksi yang seharusnya menjadi ajang penyampaian aspirasi, justru berakhir dengan perusakan fasilitas. Kerusakan ini tidak hanya merusak keindahan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat kecil.
Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan fasilitas umum ini membutuhkan biaya besar untuk perbaikan dan pemulihan, dana yang seharusnya dapat dialihkan untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan publik lainnya.(G.Nas)


Tidak ada komentar