Kritik Keras Sineas Lokal: Saatnya Industri Film Adil pada Budaya dan Pengobatan Tradisional Nusantara
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

SAMPANG, RI – Praktik penggambaran budaya dan pengobatan tradisional di dalam dunia perfilman nasional kembali menuai sorotan tajam. Kalangan jurnalis dan pengamat media di daerah sangat menyayangkan pola representasi yang kerap ditampilkan oleh industri hiburan tanah air yang dinilai tidak objektif.
Selama bertahun-tahun, layar lebar dan televisi nasional sering kali mengulang pola cerita yang menempatkan praktisi pengobatan alternatif, tabib, atau figur metafisika dalam stereotip yang merugikan.
Karakter-karakter tersebut hampir selalu dilekatkan pada busana adat, blangkon, atau kain batik, serta digambarkan melalui narasi kelam yang identik dengan ilmu hitam atau hal-hal mistis yang menyeramkan.
Cara pandang ini dinilai tidak adil dan keliru secara sosiologis maupun kultural.
Dalam tradisi masyarakat Nusantara, profesi yang berkaitan dengan pengobatan holistik, peracikan herbal, dan olah energi leluhur sejatinya merupakan bagian dari warisan pengetahuan tradisional yang berorientasi pada pertolongan kemanusiaan.
Namun, demi mengejar sensasi dan keuntungan komersial—terutama dalam genre horor—industri perfilman kerap melakukan jalan pintas visual yang mendiskreditkan atribut budaya bangsa sendiri.
Reduksi semacam ini dikhawatirkan dapat membentuk opini publik yang salah, di mana masyarakat secara tidak sadar digiring untuk menganggap bahwa seluruh tradisi, adat istiadat, dan warisan pengobatan leluhur identik dengan kesesatan atau hal-hal yang mengerikan.
Melalui pandangan kritis ini, dunia jurnalistik dan pengamat budaya mendesak para penulis skenario, produser, serta sineas nasional agar lebih bijak dan objektif dalam memproduksi karya.
Kreativitas dalam perfilman seharusnya mampu mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal secara bermartabat, bukan justru menjadikannya objek stereotip murahan.
Sudah saatnya industri kreatif tanah air berbenah dengan menyajikan narasi yang adil, edukatif, dan menghargai akar budaya Nusantara sendiri.
(Ns/red)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar