Kurangi Ketergantungan pada TPA Sarimukti, Cimahi Percepat Modernisasi Mesin Olah Sampah
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

CIMAHI,RI-Langkah konkret menuju kemandirian pengelolaan sampah terus dipatangkan oleh Pemerintah Kota Cimahi. Menghadapi tantangan keterbatasan lahan dan tingginya ketergantungan pada TPA Regional Sarimukti, Pemkot Cimahi kini fokus mengoptimalkan dua fasilitas utama, yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong dan Lebaksaat.
Strategi penguatan ini dibahas secara mendalam dalam audiensi Implementation Support Mission (ISM) Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities (ISWMP) bersama World Bank serta tim CPMU dan CPIU di Mal Pelayanan Publik Kota Cimahi, Jumat (23/10/2026).
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa pendampingan dari program ISWMP ini menjadi pilar strategis bagi keberlanjutan lingkungan di Cimahi. Menurutnya, paradigma pengelolaan sampah kota harus diubah total dari yang semula sekadar “kumpul-angkut-buang” ke Sarimukti, menjadi sistem zonasi berbasis pemilahan dari rumah yang bermuara pada pengolahan lokal di TPST.
“Cimahi mendapat perhatian khusus dari World Bank melalui Kementerian PU dan Kemendagri. Kami berharap lewat program ini, volume sampah yang keluar daerah bisa ditekan seminimal mungkin karena sudah habis diolah di dalam kota,” ujar Ngatiyana.
Salah satu lompatan besar yang disiapkan adalah modernisasi infrastruktur di TPST Sentiong. Pemkot Cimahi menargetkan kapasitas pengolahan di lokasi tersebut mampu menembus 75 hingga 80 ton per hari. Target ini akan didukung oleh instalasi mesin pengolah baru yang dijadwalkan beroperasi penuh pada awal tahun 2027. Sementara itu, mesin yang saat ini menyokong Sentiong akan direlokasi ke wilayah Cigugur demi memperluas cakupan layanan.
Namun, Ngatiyana mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak akan berdampak maksimal tanpa kesiapan ekosistem pendukungnya.
“Keberhasilan TPST ini bukan cuma soal mesin baru. Kita harus menjamin kesiapan SDM, kelembagaan yang sehat, kepastian anggaran operasional, SOP yang jelas, hingga pemenuhan standar keselamatan kerja dan lingkungan,” tambahnya.
Di sektor hulu, Pemkot Cimahi bergerak cepat mengunci komitmen warga. Pada momentum yang sama, dilakukan pengukuhan Tim Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan yang bertugas mengawal pemilahan sampah langsung dari sumbernya.
Gerakan ini diperkuat oleh program inovatif “Sapu Jagat RT” (Sapa dan Peduli Lingkungan Bersama ASN di RT). Melalui program ini, sebanyak 1.728 ASN diterjunkan langsung dari rumah ke rumah untuk melakukan edukasi pemilahan sekaligus melakukan pendataan dasar pengelolaan sampah secara akurat.
Meskipun fondasi hulu dan hilir mulai terbentuk, Pemkot Cimahi mengakui masih ada beberapa tantangan logistik yang harus diselesaikan. Penanganan residu sisa pengolahan, kepastian pasokan sampah yang stabil, mutu produk akhir, hingga kebutuhan armada menjadi catatan penting. Saat ini, Cimahi masih memerlukan sedikitnya lima unit kendaraan compactor untuk memastikan pengangkutan residu ke TPA berjalan efisien dan bersih.
Melalui kunjungan lapangan dan evaluasi dari tim ISWMP ini, Pemkot Cimahi berharap lahir rekomendasi teknis yang cepat dan konkret. Pendampingan yang konsisten dari World Bank diharapkan mampu mengawal TPST Sentiong dan Lebaksaat beroperasi secara aman, efektif, serta membawa dampak ekologis yang nyata bagi masyarakat.ungkapnya. R. Harry KP,
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar