

JOMBANG – RI, Dengan adanya Pandemi Covid-19 di Indonesia sampai saat ini membuat Perekonomian belum juga kembali stabil. Para Pengusaha, Pedagang, Tukang Ojek, Para Petani, dan lain-lain masih merasa kesulitan mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Dampak yang besar juga dirasakan oleh Warga Petani.
Desa Munungkerep Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Mereka mengeluh dengan anjloknya harga Tembakau. Yang awalnya harga Tembakau 40 sampai 50 Ribu Rupiah perkilo kini turun Drastis menjadi 15 Ribu Rupiah perkilo.
Nampak Para Petani Rembakau di Desa Munungkerep saat kita temui di Halaman Rumahnya sambil memilih dan memilah-milah Tembakau, Warga Petani mengeluh mengenas harga jual Tembakau semakin menurun dan belum bisa merasakan keuntungan dari hasil Panen tersebut.
Para Petani juga mengeluhkan biaya untuk penanaman Tembakau dihitung dari mulai awal tanam sampai panen menghabiskan biaya cukup banyak. Dari mulai memperkerjakan orang untuk mengemburkan tanah sampai penanaman dan pemupukan tidak cukup dilakukan hanya satu orang.
“Untuk pemupukan Tembakau ini dilakukan 4 kali tahap. pemupukan ada 2 jenis pupuk, yaitu Pupuk Orea dan Pupuk MPK sampai Tembakau bisa di panen”, ungkap salah satu warga.

“Proses pengeringan sangat legit dan butuh waktu 3 hari itupun kalo cuaca sinar matahari bagus dan cerah. Kalau cuaca mendung 4 hari sampai 5 hari baru kering dan baru bisa di jual ke Pengepul Tembakau,” ungkapnya.
Warga Petani mengatakan pemilihan Daun Tembakau ada 3 macam, yaitu Joneng sama Abang dan Rajangan. harga pun ngak sama dari 3 macam Tembakau itu.
Kalau Joneng dikatakan daun yang masih ijo campur kuning harga perkilo 3 Ribu Rupiah. Sedangkan Abang dau Tembakau yang sudah kering harga perkilo 15 ribu rupiah. Untuk yang Rajangan harga perkilo 10 Ribu Rupiah,” tambahnya.
Dengan proses dan awal tanam sampai panen membutuhkan biaya besar maka itu Petani berharap pada Pemerintah melalui Dinas Perdagangan supaya menstabilkan harga Tembakau agar Para Petani tidak merugi seperti sekarang ini. (DJ)


Tidak ada komentar