Hati-hati Ketipu Nasihat Bijak yang Malah Bikin Hidup Melarat: Syukur Itu Berjuang, Bukan Pasrah Tanpa Usaha!
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- visibility 59
- print Cetak

SAMPANG, RI – Di tengah kesulitan ekonomi, sering kali kita mendengar kalimat-kalimat yang terdengar menyejukkan hati namun sebenarnya bisa menjadi penampilan racun bagi semangat juang. Fenomena “nasihat yang memiskinkan” ini mulai disorot karena banyak warga yang terjebak dalam zona nyaman dan kemiskinan hanya karena salah mengartikan makna spiritual.
Banyak orang salah kaprah dengan kalimat “Yang penting bersyukur.” Syukur yang sejati bukanlah berhenti berusaha dan menerima keadaan dengan tangan terlipat. Secara spiritual, Tuhan memberikan kita akal, kesehatan, dan waktu untuk digunakan sebaik-baiknya. Jika kita memiliki kesempatan untuk maju namun memilih diam dengan alasan “sudah takdir,” itu bukanlah bentuk ketakwaan, melainkan bentuk penyia-nyiaan nikmat. Takdir seharusnya menjadi penyemangat untuk bekerja lebih keras, bukan alasan untuk memaklumi rasa malas.
Satu poin yang sangat tajam adalah adanya perilaku kesombongan spiritual. Ini terjadi ketika seseorang merasa dirinya lebih mulia atau lebih “suci” dibanding orang lain hanya karena ia mengaku tidak mengejar harta duniawi.
Mengaku bisa hidup tanpa uang di dunia saat ini sering kali hanyalah bentuk keangkuhan yang halus untuk menutupi ketidakmampuan diri. Merasa suci dengan kemiskinan, padahal masih bergantung pada bantuan orang lain atau fasilitas yang dibangun dari keringat orang lain, adalah sebuah kemunafikan. Spiritualitas yang benar justru mendorong kemandirian agar kita bisa menjadi “tangan di atas” yang memberi manfaat bagi sesama.
Nasihat bahwa “Uang tidak dibawa mati” sering disalahgunakan untuk mematikan ambisi positif. Memang benar uang tidak masuk ke liang lahat, namun manfaat dari uang tersebut—seperti sedekah, membantu keluarga, dan membangun fasilitas umum—adalah investasi yang dibawa sampai ke akhirat. Tanpa kemandirian ekonomi, seseorang akan sulit menjaga martabatnya. Menjadi pemilik usaha atau pemimpin yang berdaya secara finansial jauh lebih mulia daripada sekadar menjadi pengikut yang tidak punya pilihan hidup.
Bahkan para utusan Allah, seperti Nabi Muhammad SAW, juga berikhtiar dengan berdagang. Beliau adalah seorang pedagang sukses sebelum menjadi Rasul, dan beliau juga menikah dengan seorang wanita kaya, Khadijah RA, yang juga merupakan seorang pengusaha. Para penyebar agama, seperti para sahabat Nabi, juga berikhtiar dengan berdagang dan bekerja keras untuk menyebarkan Islam.
Warga diimbau untuk mulai memilah nasihat yang masuk ke telinga mereka. Bedakan mana nasihat yang benar-benar menguatkan jiwa dan mana yang hanya menidurkan semangat. Sebelum mengikuti sebuah nasihat, tanyakan dulu pada hati kecil: “Apakah kata-kata ini membuat saya lebih semangat bekerja, atau justru membuat saya betah dalam kemiskinan?” Hidup yang tenang bukan didapat dari sikap masa bodoh, melainkan dari kerja keras dan kendali penuh atas nasib diri sendiri.
Dalam konteks ini, perlu diingat bahwa kemiskinan bukanlah tanda kesucian, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan keberanian dan strategi yang tepat. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam lingkaran kemiskinan hanya karena salah mengartikan makna spiritualitas. Sebaliknya, mari kita bangkit dan berusaha untuk mencapai kemandirian ekonomi dan spiritualitas yang seimbang.
Jangan pernah berhenti berjuang untuk mencapai impianmu. Syukur bukanlah hanya kata-kata, melainkan tindakan nyata yang kita lakukan setiap hari. Mari kita jadikan syukur sebagai motivasi untuk terus maju dan mencapai kesuksesan.
(G. Nas)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar