Perjalanan Puasa di Bulan Ramadhan : Apa Yang Harus Diperhatikan?
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
- visibility 67
- print Cetak

SAMPANG, RI – Berita perjalanan puasa di bulan Ramadan ini cukup menarik. Banyak orang yang melakukan perjalanan jauh saat Ramadan, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah harus tetap berpuasa atau tidak.
Menurut ulama, musafir (orang yang melakukan perjalanan jauh) diperbolehkan tidak berpuasa jika jarak perjalanannya minimal 83 km (menurut mazhab Syafi’i) atau 48 mil (menurut mazhab Hanafi). Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
– Jarak Perjalanan: Minimal 83 km (menurut mazhab Syafi’i) atau 48 mil (menurut mazhab Hanafi)
– Tujuan Perjalanan: Bukan untuk tujuan maksiat atau dosa
– Perjalanan Tidak Membahayakan: Tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain
– Niat Tidak Berpuasa: Niat untuk tidak berpuasa harus dilakukan sebelum fajar
Jika memenuhi syarat-syarat di atas, maka diperbolehkan tidak berpuasa dan menggikannya di hari lain (qada’). Artinya, Anda harus mengganti puasa yang tidak Anda lakukan di hari lain setelah Ramadan berakhir.
Namun, jika perjalanan tidak terlalu berat, maka berpuasa tetap lebih utama. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 184).
Jadi, keputusan untuk berpuasa atau tidak tergantung pada kondisi fisik dan kemampuan masing-masing. Pastikan untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri, dan jangan lupa untuk mengganti puasa yang tidak Anda lakukan di hari lain.
(Ns22)
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar