Implementasi Nilai Pancasila Melalui Film “Jumbo” Sebagai Perwujudan Sastra Dalam Layar Kaca
- account_circle Radar Indonesia
- calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
- visibility 44
- print Cetak

FOTO iLUSTRASI
Penelitian ini mengungkapkan bagaimanaa nilai-nilai Pancasila direprrsentasikan dan diinternalisasikan melalui film Jumbo sebagai karya sastra dalam media layar kaca. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia mengakar secara kuat pada setiap napas dan kehidupan masyarakat Indonesia yang mengangkat nilai persatuan, kesatuan, kerukunan, hingga refleksi karakter masyarakat untuk mempertahankan sinergi kemerdekaan Indonesia. Melalui telaah setiap detail film Jumbo, nilai-nilai tersebut tercermin konkret teori sastra dan implementasi nilai Pancasila.
Akselerasi teknologi di era digital saat ini telah memicu transformasi fundamental pada berbagai dimensi kehidupan manusia. Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mengakibatkan proses diseminasi informasi menjadi jauh lebih instan, aksesibel, dan efisien. Fenomena ini tercermin dari pergeseran paradigma komunikasi, yang semula bersifat konvensional kini bertransformasi menjadi berbasis elektronik yang kompleks. Dinamika perubahan yang sangat masif, khususnya sejak memasuki abad ke-20, sering kali dikategorikan oleh para pakar sebagai revolusi komunikasi. Sejalan dengan itu, konstruksi ilmu pengetahuan pun tidak bersifat statis; ia terus berevolusi melalui tahapan yang sistematis dan berkelanjutan, bukan melalui lompatan yang terjadi secara instan.
Mulai dari kemajuan infrastruktur telekomun ikasi hingga meningkatnya penggunaan perangkat seluler dan internet, teknologi kini menjadi bagian penting dalam berbagai aspek kehidupan. Ponsel pintar, media sosial, aplikasi pesan instan, serta berbagai aplikasi lainnya telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari yang sulit dipisahkan dari kehidupan banyak orang (Suryadi, 2015).
Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi sebagai media hiburan sekaligus media komunikasi adalah film. Film merupakan media komunikasi yang memadukan unsur suara dan gambar untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Sebagai media komunikasi massa, film memiliki pengaruh yang cukup besar karena mampu menjangkau banyak orang sekaligus. Melalui perpaduan unsur audio dan visual, film dapat menyampaikan cerita, gagasan, serta berbagai pesan kepada penonton secara lebih menarik dan efektif dalam waktu yang relatif singkat (Asri, 2020).
Selain berfungsi sebagai hiburan, film juga dapat menjadi sarana penyampaian nilai-nilai sosial, budaya, maupun pendidikan kepada masyarakat. Banyak film yang mengangkat berbagai realitas kehidupan, permasalahan sosial, hingga pesan moral yang dapat memberikan pelajaran bagi penontonnya. Oleh karena itu, film tidak hanya berperan sebagai tontonan semata, tetapi juga sebagai media yang dapat memengaruhi cara pandang, sikap, dan pemahaman masyarakat terhadap berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Melalui berbagai platform digital, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai sumber pembelajaran seperti video edukasi, buku digital, kelas daring, dan berbagai informasi yang mendukung proses belajar. Menurut Hamalik (1994:12) media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.
Hubungan antara teknologi hiburan dan pendidikan sangat erat di era digital. Teknologi yang awalnya digunakan sebagai sarana hiburan, seperti film, video, animasi, dan permainan digital, kini juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Penggunaan media tersebut dapat membuat proses belajar menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh siswa.
Pancasila merupakan dasar sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia yang menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Di tengah arus globalisasi, budaya asing masuk dengan cepat sehingga perlahan mengikis nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila juga merupakan sumber dari segala aturan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga seluruh aktivitas kehidupan berbangsa harus berlandaskan dan tidak menyimpang dari nilai-nilai tersebut (Wandani & Dewi, 2021). Nilai-nilai Pancasila sebenarnya telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia, seperti nilai religius, rasa kasih sayang, persatuan, serta semangat gotong royong. Oleh karena itu, Pancasila menjadi cita-cita dan harapan bagi bangsa Indonesia (Hidayat & Dewi, 2021).
Langkah dalam menemukan akar dari suatu sebab dan akibat, ditentukan melalui peneltian yang dilakukan. Jabrohim (2012) mengungkapkan penelitian merupakan proses yang dilakukan secara sistematis untuk menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan data sebagai dasar penarikan kesimpulan. Pada hal ini, penelitian mendorong pelaku peneliti untuk mengasah keterampilan berpikir kritis sebagai upaya penguatan sumber daya manusia yang dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat yang terstruktur. Widodo, dkk., (2023) menimpali bahwa seorang peneliti menjalankan penelitian sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan untuk membuahkan hasil dan memberikan kontribusi manfaat secara optimal, serta mengurangi potensi dampak negatif yang merugikan responden. Proses tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi pada langkah-langkah dalam merumuskan secara runtut dan dapat teruji. Sebagai bagian dari penelitian yang dijalankan, perumusan pada penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan Pancasila yang terkandung pada film Jumbo. Creswell (2014;320) menguraikan penelitian kualitatif didefinisikan sebagai pendekatan yang digunakan untuk menggali dan memahami makna yang dimiliki individu atau kelompok terkait permasalahan sosial atau kemanusiaan.
Lebih jauh lagi Fauzi (2022;32) menegaskan penelitian kualitatif menjembatani pengamatan terhadap perilaku masyarakat dan keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas sebagai komponen penting dalam pengumpulan data. Kim dkk., (2017) melanjutkan definisi deskriptif kualitatif sebagai pendekatan penelitian yang berfokus pada siapa, apa, dan dimana suatu peristiwa maupun pengalaman berlangsung. Metode ini dipilih sebagai penguatan pemahaman yang komprehensif mengenai peran media film sebagai sarana edukatif penanaman nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam konteks pembelajaran dan pembentukan karakter.
Lebih lanjut, sosiologi sastra juga dijelaskan sebagai teori yang menganalisis karya sastra berdasarkan hubungannya dengan masyarakat, baik sebagai hasil ekspresi pengarang maupun sebagai bagian dari kehidupan sosial. Sastra tidak hanya dipandang sebagai karya imajinatif, tetapi juga sebagai refleksi dari realitas sosial seperti kondisi politik, ekonomi, budaya, dan agama yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian dalam sosiologi sastra tidak hanya membahas teks sastra itu sendiri, tetapi juga melibatkan tiga aspek utama, yaitu masyarakat sebagai pencipta karya (pengarang), masyarakat sebagai pembaca, dan masyarakat sebagai konteks sosial yang memengaruhi lahirnya karya tersebut. Selain itu, karya sastra juga seringkali merupakan hasil akumulasi pengalaman pengarang yang kemudian diwujudkan dalam bentuk cerita, sehingga meskipun bersifat fiksi, karya tersebut tetap memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan nyata.
- Integrasi nilai Pendidikan Pancasila dan sosiologi sastra pada tokoh Don tercermin melalui implementasi sila pertama yang diwujudkan dalam sikap sabar dan pengendalian diri terhadap perundungan, yang menunjukkan bahwa nilai Ketuhanan bukan sekadar ritual, melainkan fondasi moral dalam hubungan sosial. Secara edukatif, perilaku Don merepresentasikan pendidikan karakter religius dan etika kewarganegaraan yang mampu membentuk tanggung jawab moral serta ketangguhan di tengah tekanan sosial (Nurdin, 2015; Sugito et al., 2021). Dari sudut pandang sosiologi sastra, sosok Don merupakan cerminan realitas konflik masyarakat, di mana pilihan respons damainya membuktikan adanya internalisasi nilai budaya dan agama dalam mengatasi kekerasan lingkungan secara efektif (Noboru et al., 2020).
- Pelanggaran Sila Kedua dalam film Jumbo terlihat pada adegan perundungan oleh Atta yang menghina fisik Don melalui ejekan verbal. Meski disudutkan, respons Don yang menahan emosi tanpa membalas dengan kekerasan justru mencerminkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab melalui pengendalian diri. Hal ini diperkuat oleh sikap Mae dan Nurman yang membela Don dengan dialog penuh empati dan dukungan moral. Tindakan mereka menunjukkan pengamalan nilai kemanusiaan melalui sikap saling menghargai dan penghapusan diskriminasi, memperlakukan sesama secara adil tanpa memandang kondisi fisik.
- Tokoh Jumbo merepresentasikan implementasi sila ketiga Pancasila melalui sikap inklusif yang menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana ia menjaga hubungan harmonis tanpa membedakan suku, agama, maupun status sosial. Dalam kajian sosiologi sastra, sosoknya menjadi cerminan ideal solidaritas sosial melalui aksi nyata gotong royong dan pengutamaan kepentingan bersama di atas ego pribadi guna menjaga kohesi kelompok. Kesadaran sosial dan toleransi tinggi yang ditunjukkan Jumbo berfungsi sebagai pesan didaktis mengenai pentingnya internalisasi nilai Persatuan Indonesia untuk menciptakan stabilitas dan harmoni di tengah keberagaman masyarakat.
- Implementasi sila keempat dalam film Jumbo tecermin melalui karakter Don yang mengedepankan hikmat kebijaksanaan di tengah perundungan. Alih-alih egois, Don justru memprioritaskan musyawarah dan kolaborasi dengan teman-temannya demi tujuan Sikapnya yang tetap terbuka dan enggan membalas perlakuan negatif menunjukkan resiliensi serta rasa hormat terhadap sesama. Hal ini membuktikan bahwa nilai demokratis dan tanggung jawab lebih efektif terbentuk melalui pengalaman sosial nyata daripada sekadar teori.
- Berdasarkan korelasi sosiologi sastra dan nilai implementasi Pancasila, dirumuskan bahwa dialog tokoh Jumbo pada menit 15:00 – 15:05 “Dan setiap ada peran yang bercerita, harus ada peran yang mendengarkan.” Dialog tersebut menunjukkan penerapan sila kelima Pancasila yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia, dalam konteks ini keadilan sosial bukan hanya soal materi atau ekonomi, tetapi juga keadilan dalam ruang bicara. Sila kelima menuntut kita untuk mengakui bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk didengar (menyuarakan aspirasi) dan kewajiban untuk mendengarkan (menghargai hak orang lain).
Sosiologi hadir sebagai ruang tanpa batas yang secara tajam menguraikan lika-liku dinamika masyarakat melalui teori terstruktur, sekaligus berfungsi sebagai instrumen untuk membedah representasi nilai dalam media film sebagai sarana pendidikan. Melalui lensa sosiologi sastra, sebuah karya tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi sebagai refleksi kondisi sosial yang menginternalisasi nilai- nilai karakter seperti keteguhan moral tokoh dan tindakan-tindakan tokoh yang mengandung solidaritas inklusif tokoh Jumbo sehingga mampu menjadi jembatan edukasi yang relevan dengan realitas kehidupan nyata. (*)
Penulis:
MARSELLA HIKMAH RAMADHANI (25020074039)
AISYAH SAYYIDAH NUR HAKIM (25020074049)
DINNY IZZA MAULIDIYAH (25020074072)
MIRNA DESY LARASATI (25020074100)
SILFI MAILIYATUS SYAFA’ATI (25020074239)
- Penulis: Radar Indonesia




Saat ini belum ada komentar