Wali Kota Cimahi Tegaskan Pembangunan Harus Bikin Rakyat ‘Hepi’
- account_circle Redaksi Pagi
- calendar_month 7 menit yang lalu
- visibility 2
- print Cetak

CIMAHI, RI– Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kota Cimahi berlangsung khidmat di Lapangan Rajawali, Senin (17/8/2026). Momentum sakral yang diikuti oleh unsur Forkopimda, ASN, pelajar, veteran, dan elemen masyarakat ini menjadi panggung refleksi penting bagi arah pembangunan kota.
Dalam amanatnya, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menekankan bahwa esensi kemerdekaan hari ini harus diwujudkan melalui kerja nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari angka-angka statistik atau megahnya proyek fisik.
“Dalam membangun kota, yang dipikirkan bukan semata-mata berapa besar anggarannya, atau berapa banyak proyeknya. Tetapi satu hal, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Ngatiyana.
Di tengah keterbatasan situasi fiskal daerah, Ngatiyana mengingatkan jajarannya untuk cerdas dalam menyusun skala prioritas. Menurutnya, efisiensi anggaran bukanlah alasan untuk mengurangi pelayanan, melainkan tantangan untuk memilih program yang memberikan dampak paling masif bagi warga.
Ngatiyana memaparkan sejumlah keberhasilan yang telah diraih Kota Cimahi dalam setahun terakhir. Di sektor kesehatan, fasilitas publik terus ditingkatkan lewat rampungnya Puskesmas Cibeureum yang melayani 62 ribu jiwa, serta revitalisasi Puskesmas Melong Tengah. Terobosan lain adalah hadirnya layanan rawat jalan sore di seluruh kecamatan, yang membantu pekerja mengakses layanan kesehatan tanpa kehilangan penghasilan harian.
Pada sektor infrastruktur dan ekonomi, kehadiran Bundaran Jati sukses mengurai kemacetan, disusul proyek underpass Gatot Subroto–Baros yang terus dikebut bersama Pemprov Jabar. Ngatiyana juga bangga atas pertumbuhan ekonomi Cimahi tahun 2025 yang menembus 5,33 persen, serta raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang ke-13 kalinya.
Untuk isu lingkungan, Pemkot Cimahi menargetkan gerakan zero to landfill melalui TPST Santiong yang mampu mengolah 85 ton sampah per hari, diperkuat oleh gerakan Sapu Jagat dari hulu.
Ngatiyana mengingatkan bahwa semua capaian ini mustahil terwujud tanpa adanya kolaborasi. Pembangunan modern, menurutnya, adalah wujud dari gotong royong multidimensi.
“Kota ini tidak bisa dibangun sendiri. Ada hal yang harus kita kerjakan sendiri, ada hal yang harus kita kerjakan bersama, dan ada hal yang harus kita perjuangkan bersama-sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” tambahnya.
Menutup pidatonya, ia mengajak seluruh aparatur sipil negara untuk meningkatkan integritas dan profesionalisme, serta menjadikan momentum kemerdekaan sebagai janji suci pelayanan.
“Di hari kemerdekaan ini, mari kita jadikan merah putih bukan hanya sebagai bendera yang kita kibarkan, melainkan janji untuk bekerja lebih keras, janji untuk melayani lebih tulus, janji untuk membangun lebih mantap agar masyarakat menjadi hepi,” tutup Ngatiyana. R. Harry KP.
- Penulis: Redaksi Pagi




Saat ini belum ada komentar